Surya Anom : Orang Bali Yang Tak Kena Racun Ajaran Sampradaya Akan Mebela Pati Sampai Puputan

  • Whatsapp

PENJURU ID|DENPASAR – Dunia ini memang penuh sampah, jadi tidak salah bila kita melakukan pembersihan. Paling tidak Jangan sampai pikiran, ucapan dan perbuatan yang busuk sepertI sampah mengotori Agama Hindu Bali/Nusantara yang kita sucikan dan sakralkan.

Dengan pelanggaran yang dilakukan oleh pengurus PHDI Pusat periode Tahun 2016 – 2021, yang membahayakan eksistensi ajaran Agama Hindu Bali/Nusantara atau agama Hindu di Indonesia yang diakui sebagai agama oleh pemerintah Indonesia.

Sudah wajar mandat ADART yaitu Mahasaba Luar Biasa harus dilaksanakan oleh sekurang kurangnya 2/3 PHDI Provinsi yang ada di Indonesia. Dan itu yang dilakukan oleh PHDI Provinsi seluruh Indonesia.

Ada lebih dari 18 pasal dan ayat yg dilanggar oleh Pengurus PHDI Pusat Periode 2016 – 2021 demisioner.

“Dan yang lebih parah adalah menaungi organisasi Hare Krisna atau Iskcon, serta membiarkan barang cetakan ajaran Hare Krisna beredar di kalangan Hindu di Indonesia sehingga meracuni umat Hindu di Indonesia oleh ajaran terlarang tersebut.” kata

Ajaran tersebut dilarang melalui SK 107/JA/5/1984 yg dikeluarkan Kejagung pada 8 Mei 1984.

Ini artinya Pengurus PHDI Pusat 2016 – 2021 demisioner, telah dg sengaja menyangkutkan Agama Hindu di Indonesia melakukan pembangkangan terhadap pemerintah Republik Indonesia.

Apa ini tidak berbahaya untuk eksistensi Agama Hindu di Indonesia??

Kemudian pengurus PHDI Pusat 2016 – 2021 demisioner, melakukan kebohongan publik dg menyatakan bahwa minimal 2/3 PHDI Provinsi harus mengusul kepada Pengurus PHDI Pusat untuk menyelenggarakan Mahasaba Luar Biasa.

Padahal dalam Pasal 30 ayat (4) dinyatakan: “Dalam keadaan mendesak dan demi keutuhan Parisada, dapat diadakan Mahasabha Luar Biasa atas usul sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) dari jumlah Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi yang ada.”

Tidak ada keharusan mengusulkan kepada PHDI Pusat. Ini suatu kebohongan untuk menyesatkan umat.

Coba dibayangkan, masihkah kita harus respect kepada orang-orang yang menyandang tokoh, tapi demi jabatan justru melakukan penyesatan kepada umatnya sendiri.

Bila kita tidak membaca ADART, secara logika sederhana, tentu sangat goblok yang membuat ADART bila Mahasaba Luar Biasa (MLB) harus diselenggarakan oleh Pengurus PHDI Pusat, karena MLB adalah way out penyelamatan organisasi bila ada pelanggaran Pengurus PHDI Pusat.

Kembali lagi ke masalah sampah. Kalau sudah pikiran adalah pikiran sampah yg tidak rela dijadikan pupuk, justru meminta untuk ditempatkan di meja makan seperti makanan yg sehat, maka rusaklah kesehatan manusia yg mau menyantapnya.

Renungan dari kaki Gunung Agung
Demi Ajegnya Agama, Adat, Tradisi dan Budaya Bali/Nusantara, Orang bali yang tidak kena racun ajaran Sampradaya Luar Nusantara akan “mebela pati” sampai “Puputan”. (Nayaka/Adi)

Pos terkait