Sulardianto: Mondhosiyo Tradisi Ritual Bersih Desa Pancot Tawangmangu

PENJURU.ID | TAWANGMANGU – Mondhosiyo Merupakan sebuah tradisi ritual sebagai peringatan wetonan (hari pasaran dalam penanggalan Jawa) hari lahir desa, atau kalau sekarang lebih dikenal dengan acara bersih desa.

Agar desa yang bersangkutan dijauhkan dari berbagai macam pengaruh buruk dan sebagi wujud rasa syukur warga atas segala rejeki yang mereka terima.

Menjelang sore saat terdengar tetabuhan musik pengiring reog terdengar di sepanjang jalan di desa Pancot, Tawangmangu, sebagai penanda dimulainya puncak ritual Mondhosiya. Bersamaan dengan itu 8 kelompok reog secara serentak memulai atraksinya.

Ratusan orang yang sebagian besar adalah warga desa setempat dan sekitanya yang sudah menunggu dari pagi hari mulai memadati pingir jalan utama desa agar tak ketinggalan atraksi reog

“Mondhosiyo merupakan sebuah tradisi ritual sebagai peringatan wetonan (hari pasaran dalam penanggalan Jawa) hari lahir desa, atau kalau sekarang lebih dikenal dengan acara bersih desa,” kata Ketua Umum Banteng Lawu Karanganyar saat di konfirmasi penjuru.id, Sabtu (1/05) .

“Agar desa Kami dijauhkan dari berbagai macam pengaruh buruk dan sebagi wujud rasa syukur warga atas segala rejeki yang mereka terima”, ujar Ki Dalang Sulardianto Pringgocarito.

Saat terdengar tetabuhan musik pengiring reog terdengar di sepanjang jalan di desa Pancot, Tawangmangu, sebagai penanda dimulainya puncak ritual Mondhosiya.

Bersamaan dengan itu 8 kelompok reog secara serentak memulai atraksinya. Ratusan orang yang sebagian besar adalah warga desa setempat dan sekitanya yang sudah menunggu dari pagi hari mulai memadati pingir jalan utama desa agar tak ketinggalan atraksi reog.

Ki Sulardianto Pringgocarito memaparkan bahwa ritual Mondhosiya muncul dari cerita legenda setempat. Jaman dulu dikisahkan bahwa desa Pancot, Tawangmangu dikuasai oleh seorang raksasa jahat bernama Prabu Baka yang kanibal, suka menyantap warga desa.

Sangat lama warga desa Pancot hidup dalam bayang-bayang kematian, seperti hanya menunggu giliran kapan akan menjadi santapan Parbu Baka.

Hingga akhirnya suatu hari muncullah seorang pahlawan bernama Putut Tetuko yang diceritakan berhasil mengalahkan Parbu baka dalam sebuah pertempuran yang sengit.

Putut Tetuko berhasil menghempaskan kepala Prabu Baka pada sebuah batu hingga tewas (batu tersebut sampai sekarang masih dikeramatkan oleh penduduk desa). Kemudian dipercaya bahwa gigi Prabu Baka menjelma menjadi tanaman bawang merah dan bawang putih yang banyak ditanam oleh warga Pancot sampai sekarang.

Ritual Mondhosiya tersebut melibatkan seluruh warga desa tanpa terekecuali, dari anak-anak sampai para sesepuh desa. Semua warga desa bersama-sama tanpa memandang status berkumpul dalam suatu perhelatan akbar. Untuk sementara melupakan segala permasalahan.

Yang paling menarik adalah acara puncak dari ritual Mondhosiya, yaitu berebut ayam. Orang-orang desa Pancot percaya jika meminta sesuatu di depan batu yang digunakan Putut Tetuko untuk mengalahkan Prabu Baka pasti akan dikabulkan.

Dan jika permintaan tersebut sudah dikabulkan makan warga yang bersangkutan diwajibkan untuk melepasakan ayam ke atas atap pendopo desa Pancot pada puncak ritual Mondhosiyo yang kemudian akan diperebutkan oleh seluruh warga kampung.

“Kehebohan dan banyak adegan lucu dapat kita saksikan saat seluruh warga desa berusaha menangkap ayam yang telah dilepaskan. Biasanya warga akan membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling bersaing menangkap ayam tersebut. Benar-benar ritual yang lain dari pada yang lain,” pungkasnya. (Adi penjuru)

Pos terkait