SOLOK – Untuk mencegah dan mengurangi dampak risiko penyebaran Coronna Virus Disease 2019 (Covid-19), Pemerintah Indonesia melaksanakan program vaksinasi yang ditandai pencanangannya dengan penyuntikan pertama vaksin jenis Sinovac kepada Presiden RI Joko Widodo (13/1/2021).
Selanjutnya, vaksinasi dilakukan kepada pejabat negara, TNI, Polri, tenaga medis, berjenjang hingga ke tingkat Daerah.
Di Kabupaten Solok, program vaksinasi sudah dijalani hingga tahap kedua. Data terakhir dari Dinas Kesehatan setempat yang dirilis jubir Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Solok Syofiar Syam, vaksinasi tahap I untuk tenaga Kesehatan sudah selesai dilakukan sejak 1 Februari sampai dengan 6 Maret 2021, dengan capaian 1.282 orang dari 1.276 sasaran target (100, 50%).
Sementara, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap II termen I untuk Pelayanan Publik, ASN, TNI dan Polri dilakukan tanggal 1 hingga 13 Maret 2021, dengan capaian 949 orang dari 1.443 sasaran target (65, 76%).
Terkait hal itu, Plh.Bupati Solok H.Aswirman,SE,MM, kepada INDONESIA SATU, saat ditemui di Ruang Kerjanya, Senin, 22 Maret 2021, menyatakan mendukung program vaksinasi itu sebagai ikhtiar (usaha) dalam memerangi dampak risiko penyebaran virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan itu.
Dikatakan Plh.Bupati, pelaksanaan program vaksinasi secara bertahap hingga merata nantinya, diharapkan dapat mencegah serta mengendalikan penyebaran Virus Covid-19 hingga menciptakan herd immunity (kekebalan kelompok). Dengan demikian, diharapkannya pandemi segera berakhir agar aktifitas kehidupan masyarakat kembali seperti sedia kala.
“Selain dengan menerapkan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak/menghindari kerumunan) untuk memaksimalkan upaya pencegahannya dengan vaksinasi ini, dengan harapan terciptanya herd immunity,” ungkapnya.
” Semoga dengan ikhtiar ini, penyebaran virus Covid-19 bisa segera teratasi dan pandemi segera berakhir, ” imbuh Plh Bupati Solok Aswirman.
Untuk itu, Aswirman mengimbau masyarakat untuk tidak mudah termakan isu-isu yang dihembuskan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, karena vaksin telah terbukti aman dan dinyatakan halal oleh pihak yang berkompeten (MUI). Sejauh ini pun, dia mengaku tidak ada menerima keluhan yang mengkhawatirkan sebagai dampak ikutan bagi para ASN yang telah melaksanakan vaksinasi.
“Hingga pelaksanaan tahap II pun tidak ada laporan dampak ikutan yang saya terima hinggasaat ini. Yang dirasakan usai vaksin hanya rasa kantuk dan lebih sering merasa lapar saja,” jelasnya.
Menurutnya, isu miring dan kekhawatiran terhadap vaksin tersebut hal biasa, yang mungkin dikarena masyarakat belum memiliki persepsi yang sama. Untuk itu, dia meminta agar seluruh pihak khususnya yang tergabung dalam Satga Penanganan Covid untuk memberikan pemahaman tentang dampak dan manfaat dari vaksin tersebut.
“Makanya, untuk menghapus kekhawatiran masyarakat, pelaksanaan vaksin dimulai oleh aparatur pemerintahan, sekaligus agar pelayan publik tidak tertular dan tidak menularkan Covid-19 di tengah-tengah masyarakat. Mudah-mudahan masyarakat paham,” pungkasnya. (Amel)





