PENJURU.ID | SEMARANG – Hari Kebangkitan Nasional merupakan tonggak kesadaran berbangsa yang tidak kalah pentingnya. Tanggal 20 Mei 1908 adalah hari didirikannya perkumpulan Boedi Oetomo, sebuah organisasi yang didirikan oleh kaum pelajar dan priyayi pada masa itu dengan tujuan untuk ‘memajukan hindia belanda (Indonesia)’.
Meskipun awalnya didirikan oleh kaum pelajar, Boedi Oetomo dalam pergerakannya memikirkan dan merangkul seluruh lapisan masyarakat.Sebelum Boedi Oetomo, kesadaran bahwa kita adalah sebuah bangsa sangat rendah.
Hampir semua aspek kehidupan saat itu dalam kungkungan sistem kolonial, dari aspek perdagangan, pertanian, ekonomi, keuangan, pendidikan, budaya, sampai dengan politik. Tentu saja pada saat itu, sebagian besar masyarakat menganggap sistem kolonial yang dijalaninya sebagai seuatu yang normal, bukan sesuatu yang harus dirubah.
Perkumpulan Boedi Oetomo membuka mata masyarakat bahwa kita ini adalah sebuah bangsa, yang harus bangkit melakukan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan kita, agar kita bisa mengatur sendiri dan maju.
“Dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional mengajak seluruh lapisan masyarakat, sobat gayeng nusantara bersama sama meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam bingkai kebhinekaan untuk mewujudkan solidaritas sosial, khususnya dalam menghadapi Covid-19,”kata Founder Gayeng Seni & Budaya Maming Hermawan saat di konfirmasi penjuru.id, Kamis (20/05).
“Persatuan yang kokoh akan memampukan seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama secara bahu-membahu melawan pandemi yang kini melanda negeri ini,” tegasnya.
“Gerakan berbagi harus dijadikan sebagai gerakan bersama yang kan menjadi modal sosial dan budaya dalam mengatasi penyebaran Covid-19.” pungkasnya.(Sukarno)





