PENJURU.ID | Tangsel – Kota yang berslogan Cerdas, Modern, dan Religius ini, Desember 2020 mendatang juga akan menyelenggarakan pemilihan walikota dan wakilnya secara serempak seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia.
Akhrom Saleh. S.IP, selaku pemerhati sosial politik membuka data kajian pengamatannya melalui pesan singkatnya yang diterima redaksi PENJURU.ID Rabu (12/8/20) ini.
Pemuda yang kerap ‘terpergok’ aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat ini berpendapat bahwa “Pilkada Kota Tangsel merupakan perang bintang, yang juga perang elit nasional dan lokal”
Apa Kajian Pengamatan Akrom Saleh?
“Pertama, faktanya dari ketiga pasangan yang muncul seperti Benyamin Davnie yang berlatar birokrat tulen dan juga petahana maju didampingi oleh H. Pilar Saga yang juga keponakan dari mantan penguasa provinsi Banten, bersaudara dengan wakil Gubernur Banten, dan anak kandung dari Bupati Serang,” ungkap Akhrom.
“Kedua, calon walkot Hj. Siti Nur Azizah merupakan mantan birokrat (ASN) yang juga anak dari wakil Presiden RI periode 2019-2024 KH. Ma’ruf Amin,” sambungnya.
Serta “Ketiga, Pasangan Muhammad yang mantan sekretaris daerah kota Tangerang Selatan berpasangan dengan Rahayu Saraswati seorang anak konglomerat Hashim Djojohadikusumo, yang juga keponakan dari Menteri Pertahanan RI Periode 2019-2024 sekaligus Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto,” jelas aktivis pergerakan tingkat nasional ini.
Namun, Akhrom juga mengungkapkan kebingungannya bahwa “Kenapa Kota Tangerang Selatan seperti gadis perawan yang diperebutkan hidung belang? Padahal secara hak suara, Tangsel bukanlah penduduk padat yang Daftar Pemilih Tetapnya (DPT) seperti DKI, kabupaten Bekasi, Bogor, Depok, atau bahkan Kota dan kabupaten Tangerang jauh lebih banyak pemilihnya dibandingkan Tangsel,” sambung pria yang juga penduduk Tangerang Selatan ini.
Ia juga menguak data Jumlah DPT Tangsel tahun 2019 menurut ketua KPU Tangsel yang didapatkannya sebanyak 948.571 (wartakota.com) dan dimutahirkan melalui proses pencocokan dan penelitian (Coklit) tahun 2020 sebanyak 1.380.662 orang (kompas.com) dan perbandingannya dengan Kota Tangerang ditahun 2019 sebanyak 1.194.369 orang (Situs resmi KPU Kota Tangerang).
Jadi Apa Yang Menjadikan Alasan Para Tokoh Lokal Atau Elite Politik Nasional Menurunkan ‘Jagoan-Jagoannya’ di Pilkada Kota Tangsel?
“Coba kita lihat dari sudut pandang Pendapatan Asli Daerah (PAD) darimana asalnya?” unggah Akhrom.
Ia juga mengungkap bahwa Tangsel hanya memiliki (pajak) dari sektor perdagangan yakni pajak reklame, restoran, hiburan, PBB, BPHTB dan lain sebagainya (Metropolitan.id/2019 -PAD Tangsel Tembus Rp. 1,3 Triliun). Sedangkan data lainnya mengungkap bahwa Tangsel ber-PAD lebih kecil jika dibandingkan dengan kota Tangerang yang juga kota penyanggah Ibukota Negara sebesar 2,2 Triliun di tahun 2019 (Satelit News.Id – PAD 2019 Kota Tangerang Naik 108,60 Persen).
“Artinya apabila kita mengacu pada politik anggaran tentunya itu tidaklah dapat masuk logika untuk dijadikan alasan utama dalam merebut kursi nomor satu. Karena Tangerang Kota lebih besar PAD-nya dibandingkan Tangerang Selatan,” jelas Akhrom.
Jadi untuk Siapa Para Anak Tokoh, Penguasa dan Anak Konglomerat itu Maju di Pilwalkot Tangsel?
Menjawab hal ini Akhrom beranggapan bahwa para calon yang ‘dipasang beradu’ merupakan representatif pilpres tahun 2024 mendatang. Kenapa demikian? Karena secara umum sebanyak 270 daerah menyelenggarakan pilkada serentak Desember 2020 mendatang merupakan tolak ukur/pemetaan suara dalam ‘bertarung’ pemilihan Presiden 2024 nanti. Oleh karenanya para elit dan tokoh nasional, serta para konsultan politik Pilkada menjadi ajang adu strategi dan adu kuat. Sehingga menjadi sebuah keharusan semaksimal mungkin untuk merebut kursi kepala daerah dalam kontestasi Pilkada serentak yang akan jadi tolak ukur Pilpres tahun 2024 mendatang.
Perihal Pilkada Tangsel ini sayangnya para calon tersebut tidak menggambarkan refresh entative pemimpin daerah yang terlahir dari rakyat biasa. Pasalnya mereka merupakan penguasa, atau anak-anak keluarga dari penguasa negeri yang menunjukkan bahwa politik oligarki masih bercokol kuat dalam tubuh partai, sehingga keputusan elit partai sangat terlihat dalam Pilkada Tangsel, sambung Akhrom.
Menutup pembicaraan, Ia juga berharap agar, secara umum Pilkada serentak Desember mendatang dapat melahirkan pemimpin-pemimpin daerah yang dapat membawa daerahnya keluar dari krisis kesehatan (Covid19) dan dapat bekerjasama dalam membantu pemerintah pusat keluar dari krisis/resesi ekonomi yang saat ini mengancam kita didepan mata. Khusus untuk Tangsel, mengatasi permasalahan akibat Covid-19 serta persoalan kesenjangan sosial yang semakin meningkat bagai puncak gunung es yang terlihat kecil dari atas namun bergejolak dibawah.
“Semoga Pilkada Tangsel sebagai ajang lomba mensejahterakan warganya, dengan bertarung realisasi konsep yang diusung. Bukannya hanya untuk kepentingan segelintir elit lokal dan Pilpres 2024 mendatang,” tutupnya.
(TA/MA)





