PENJURU.ID | Jakarta – Kongres ke-7 Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (K.SBSI) akan dilaksanakan pada 5 – 7 November 2021 di Medan, Sumatra Utara dengan tema “Serikat Buruh Kuat, Rakyat Sejahtera”. Karena itu dalam Kongres ke-7 K.SBSI kali ini disemangati oleh hasrat melakukan regenerasi Kepemimpinan di tubuh organisasi, serta upaya untuk melakukan amandemen Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
“K.SBSI menjadi salah satu konsentrasi yang harus menjadi perhatian seluruh peserta kongres yang diperkirakan offline sekitar 400 peserta, serta peserta online bisa mencapai 1200 orang dari seluruh perwakilan di Indonesia”. Demikian menurut Sri Ningrung, Sekretaris Panitia Penyelenggara Kongres K.SBSI ke-7, saat dijumpai di Sekretariat DPP K.SBSI Jl. Tanah Tinggi II No. 25 Jakarta Pusat, Jum’at, 17 September 2021.
DPP K.SBSI mengacu pada Sanepo Thamas L. Friedman yang mengatakan dunia sekarang telah menjadi datar, seperti paparannya dalam buku yang menghebohkan itu, “The World is Flat” sebagai kiasan untuk menggambarkan bahwa jarak yang menjadi pemisah itu sekarang sudah tak lagi menjadi halangan bagi manusia. Tak terkecuali negera sekalipun tak lagi bisa membatasi gerak dan interaksi manusia yang satu dengan manusia lainnya di benua yang berbeda.
Bahkan David. C Korten juga telah menyimpulkan bahwa “The Post Corporste World : Life After Capitalism”, menuding pada pandangan yang puritan terhadap kapitalisme itu sudah harus ditinggalkan agar dapat memasuki suasana hidup dan penghidupan yang baru agar dapat lebih bisa bersikap adil bagi semua orang, bukan hanya bagi kelompoknya saja.
Pada gilirannya, realitas sosial paska ideologi telah mendorong pergeseran tata sosio-ekonomi dalam skala global. Akibatnya bagi kelas sosial mayoritas — rakyat miskin dan golongan papa — telah memantik restrukturisasi tatanan sosial yang baru, meski formulasinya masih harus terus dalam proses pencarian pada era milineal sekarang ini.
Agaknya, dalam kondisi serupa inilah K.SBSI sebagai organisasi buruh yang pernah menjadi sangat fenomenal semasa awal kehadirannya, kini mengemban beban sejarah yang luar biasa itu untuk terus diestafetkan pada generasi milineal hari ini, seraya patut bisa menemukan model atau pola pergerakannya yang baru dan segar.
Karena dalam tata kelola organisasi buruh pada hari ini tak lagi bisa memakai cara atau model pengorganisasian yang lama, seperti pada era 20 tahunan silam.
Pandemi Covid-19 dan Varian Delta yang masih terus mengancam, merupakan realitas yang ikut menghambat pelaksanaan Kongres ke-7 K.SBSI yang tetap harus dikalkulasi oleh Panitia Pelaksana yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sementara akibat pandemi itu, kata panita kongres K.SBSI, tidak sedikit telah membuat kaum buruh menjadi korban, termasuk PHK, tidak menerima hak yang sepatutnya harus diterima, juga beragam macam bantuan sosial yang juga diterima.
Atas dasar realita itu, peserta kongres K.SBSI ke-7 perlu lebih konsentrasi merumuskan program kerja yang nyata, pesible, efektif, terjangkau sesuai dengan kondisi nyata dari energi sumber daya, dana dan tenaga yang mumpuni, bukan sekedar pemantas belaka, sebab tantangan ke depan makin berat, rumit dan kompleks, perlu terobosan yang jenial sifatnya.
Cacatan singkat untuk peserta kongres ke,-7 K.SBSI ini, hanya ingin mengingatkan saja agar regenerasi seperti yang sudah dilakukan oleh Johanes Dharta selaku Ketua Umum dan Hendrik Hutagalung sebagai Sekretaris Jendral K.SBSI perlu mendapat support sepenuh hati dari segenap peserta kongres dan fungsionaris organisasi, sebab untuk dapat mempetahankan keberadaan K.SBSI yang telah memancangkan monumen sejarah reformasi di Indonesia tahun 1998, adalah tugas yang maha berat. (Red. Fiyan)
Jakarta, 17 September 2021




