PENJURU. ID | Jeneponto – Keheningan selepas salat Jumat di Desa Jenetallasa, Kecamatan Bangkala tiba-tiba pecah menjadi suasana haru. Imam masjid yang selama puluhan tahun mengabdikan diri dengan ketulusan berdiri dan menyampaikan keputusan yang membuat jamaah tak kuasa menahan sedih: ia mengundurkan diri.
Dengan suara perlahan, ia mengungkapkan alasannya selama 11 bulan, insentifnya sebagai imam dusun tidak pernah dibayarkan. “Saya tidak meminta lebih… hanya hak yang pernah dijanjikan,” ujarnya pelan. Kata-kata itu membuat beberapa jamaah menunduk, sebagian lain mengusap mata.
Bagi banyak warga, imam tersebut bukan hanya pemimpin salat. Ia adalah tempat bertanya, tempat mengadu, dan sosok yang selalu hadir setiap ada warga yang membutuhkan.
Tak disangka, persoalan serupa juga dialami kader posyandu. Mereka baru menerima insentif satu kali, hanya Rp100 ribu. Padahal merekalah yang menjaga kesehatan anak-anak dan lansia di desa.
Warga tersentuh sekaligus prihatin. Peristiwa ini membuka percakapan yang selama ini tertahan mengenai pelayanan pemerintah desa mulai dari insentif yang tak dibayar hingga janji pembangunan yang tak kunjung terlaksana.
Pengunduran diri sang imam menjadi tanda kuat bahwa ada masalah yang tak bisa lagi disembunyikan. “Kalau orang sebaik beliau saja sampai menyerah, berarti sudah terlalu lama tidak diperhatikan,” kata seorang warga.
Kini masyarakat berharap pemerintah desa hadir memberikan kejelasan. Karena di balik angka-angka anggaran, ada pengabdian yang selama ini berjalan dalam diam, menunggu dihargai.




