Di Antara Bingkai dan Prasasti, Kapolres Jeneponto Menutup Masa Tugas dengan Sunyi yang Bermakna

Menatap Jejak di Dinding Waktu, Kapolres Jeneponto Akhiri Masa Tugas dengan Senyap Bermakna

PENJURU.ID | Jeneponto – Langkah itu pelan, nyaris tanpa suara. Menjelang berakhirnya masa jabatan, Kapolres Jeneponto AKBP Widi Setiawan, S.I.K., M.I.K., berdiri sejenak di hadapan dinding yang memajang foto-foto para Kapolres Jeneponto dari masa ke masa.

Deretan bingkai itu bukan sekadar dokumentasi jabatan, melainkan jejak sejarah kepemimpinan. Di sanalah kini terpajang pula foto dirinya menjadi yang terakhir sebelum tongkat komando resmi berpindah tangan. Sebuah momen hening, penuh perenungan, seolah menegaskan bahwa setiap amanah memiliki batas waktu.

Tak jauh dari sana, sebuah prasasti terpampang di dinding, memuat pesan yang ditinggalkan dengan tinta nilai dan nurani:

“Menjadi polisi yang hebat itu, polisi yang bekerja dengan hati, melayani dengan tulus dan kehadirannya dinantikan masyarakat.” Pesan yang ditandatangani pada 19 Januari 2025 itu kini terasa menemukan maknanya sendiri di penghujung masa jabatan.

Besok, Selasa 20 Januari 2026, Polres Jeneponto akan melaksanakan serah terima jabatan (Sertijab) Kapolres lama dan Kapolres baru. Sebuah agenda institusional yang rutin, namun selalu sarat makna bagi mereka yang pernah memikul tanggung jawab besar di pundaknya.

Selama kepemimpinannya, AKBP Widi Setiawan menapaki dinamika tugas kepolisian di Jeneponto dengan beragam tantangan dari menjaga stabilitas keamanan hingga menghadapi tekanan publik. Namun di atas semua itu, nilai pengabdian dan pelayanan menjadi fondasi yang terus dipegang.

Kini, foto di dinding dan prasasti di ruang itu menjadi saksi bisu. Bahwa jabatan boleh berakhir, namun nilai yang ditinggalkan akan terus berbicara. Bahwa seorang pemimpin pada akhirnya akan melangkah pergi, tetapi jejak ketulusan dan keberanian akan menetap lebih lama dari sekadar masa jabatan.

Karena pada akhirnya, bukan tentang berapa lama seseorang memimpin, melainkan bagaimana ia dikenang, apakah sekadar pernah menjabat, atau pernah hadir dan berarti.

Pos terkait