BOROBUDUR BUKAN CANDI BUDDHA

PENJURU.ID | DENPASAR – Kapan dan siapa “Misionaris/Pendakwah” Hindu/Buddha yang terlahir di India masa Pra Islam masuk ke Nusantara,Sehingga situs situs di Nusantara di sebut berdasar pada salah satu ajaran india?

Bahwa benar Hindu/Buddha berasal dari India dan tidak benar situs situs di Nusantara Indonesia berdasar Hindu/Buddha,sejatinya yang tergambar di situs situs itulah “Ajaran” yang mendasari lahirnya Hindu,Buddha dan Jaina di India.

Fahami ini :
Vhwănā Çhaķâ Phalā kini terpublikasi bernama Borobudur, ada 160 panel pada relief dasar Borobudur yang kini tidak di expose bahasa dan ajaran yang mendasari nya asli ajaran leluhur kita bukan dari india.

12 kata “Şvãrggã” bukan “Nirvana/Nibana” dan kata yang lain nya adalah Kųsãlädhãrmãbæjănā dan Mãhéçãkhya ini membuktikan bahwa di tanah inilah ajaran “Dharma Original” berawal dan berasal kini tersimpan sempurna di Bali,di masa lalu dibawa leluhur kita kaum “Çaka/Saka/Çakyā/Aryā keluar Nusantara Indonesia.

Raffles,Menamakan bangunan megah ini dengan nama BOREBUDUR dengan anggapan di dekat situs ada desa “Bore” faktanya tidak ada desa yang namanya Bore,
“Budur” bahasa jawa diartikan “Purba”
arti Budur/Bidur bahasa jawa itu “Bisul”.

Johannes Gijsbertus Casparis ,Filolog Belanda menulis dalam disertasinya 1954 memperkirakan pembangunan nya sekitar tahun 824 M ini “Perkiraan” bukan hasil kesimpulan berdasar penelitian ilmiah akademis.

Kitab kitab yang katanya mendasari desain rancang bangunan ini adalah “Shilpa Shastra” & “Vastu Sastra dari india.
Faktanya,semua kitab kitab itu baru ada pada abad 5 M,Bangunan megah ini sudah ada sebelumnya.

Relief dasar nya yang “Tidak di expose” terpublikasi dengan penamaan ” Karmawibhangga” ini menggunakan tafsir dari naskah “Mahakarmawibhangga “,namun tidak sepenuhnya mengikuti naskah itu
,Bernet Kempers 1970 : 151 & 1976.

Borobudur,Terpublikasi berdasar “Mahayana” india,benarkah..?

Para Peziarah Tiongkok dari Fa-Hien 399-414 M sampai I-Tshing 671 – 695 M,Datang ke Nusantara terdahulu untuk “Belajar” bukan membawa “Buddhism” dari negaranya di sebarkan ke sini..dan Palembang bukan pusat “Buddhism” di masa lalu,jangan salah kaprah,apalagi ikut mempublikasikannya.

Penggalian yang paling penting oleh para sarjana Buddhis Indonesia adalah konsep “Ketuhanan” dalam “Buddhism” yang diadopsi dari berbagai penelitian teks-teks kuno dalam buku “Sanghyang Kamahayanikan”,ajaran leluhur bangsa Indonesia yaitu konsep “Hyang Widhi Tunggal” dan atas dasar salah satu inilah,Negara memasukan “Buddha” menjadi salah satu Agama resmi negara.

Ketika Bhikkhu Ashin Jinarakkhita mencetuskan ide mengadakan upacara “Tri Suci Waisak” secara nasional di Borobudur pada 22 Mei 1953 mulai saat inilah “Terpublikasi” Borobudur berdasar “Mahayana”.

Seorang Bhikuni juga akademisi Thailand menyimpulkan hanya 50% yang “Berkesesuaian” dengan biografi YM.Sidharta Gautama dan selebih nya dia tidak faham

Di Nusantara pada abad 4 M sampai dengan 7 M,tidak tercatat misionaris india datang ke Nusantara “Peziarah Tiongkok” yang datang ke Nusantara adalah untuk “Belajar” dan mencatat ajaran “Dharmic Original” yang telah ada lama di Nusantara,bukan membawa ajaran dari negrinya di sebarkan ke Nusantara.Palembang bukan pusat ajaran Buddhis.

Peziarah Tiongkok yang datang ke Nusantara untuk Belajar dan mencatat ajaran dari Nusantara,Yang di bawa ke negrinya :

Fa-Huan 337 – 422 M Catatan perjalan di terjemahkan dan diberi catatan oleh Corean recension dari teks bahasa Mandarin oleh James Legge,Yang di lihat Fa-Huan bangunan dengan “Patung” di dalam nya di samping pohon besar adalah situs “Mendut”.

Pada tahun 399-414 M Fa-Huan dalam perjalanan di svarnadvipa mencatat…mengikuti sungai Po-Nai (adalah sungai Pana’i,kampar) di tempat “di mana para pelajar pernah tinggal di situ dan melakukan gerakan “berjalan berputar” mengelilingi “Tope”/Stupa juga 4 guru duduk di 4 sudut, di tempat ini “Menara”telah didirikan.( Pradaksina/Prasawiya/Tawaf di “Muara Takus”).

Sung Yun 518-521 M mencatat adanya kekuasaan yang di sebut nya “Śaka kṣatrapas” dari indentifikasi koin di duga telah ada sekitar tahun 225 M dengan gambar “Tope” atau stupa Muara Takus.

Pada tahun 602 – 664 M,Hieun-Tsang,mencatat apa yang di lihat nya di svarnadvipa di sampingnya ada stupa yang dibangun oleh rāja, sekitar 200 kaki tingginya di dekat ini ada tanda di mana Tathāgata berjalan ke sana kemari.

Hui Ning 664 M – 667 M melakukan perjalanannya selama 3 tahun di pulau Jawa untuk menterjemahkan sebuah sutra,tentang pemahaman “Kehidupan setelah kematian” di nusantara ini bernama “Svarggā”,Penterjemahan di bantu seorang pakar Jawa yang bernama Jñânabhadra (“Svarggā” bukan Nirvana).

I -Tsing atau Yi-Jing,tahun 671 – 695 M
Pengelana asal Tiongkok yang datang ke Nusantara 3 kali berangkat dari Guangzhou berlayar 20 hari selama 10 tahun di Sriwijaya 685-695 M,ia tinggal selama 6 bulan di Sriwijaya 2 bulan di Malayu untuk belajar.

Di Svarnadvipa Nusantara pada masa yang lebih tua lagi,jauh sebelum zaman Veda 6.500 SM telah ada ajaran yang di anut yaitu “Dharma” ajaran asli Nusantara kaum Saka nenek moyang kita,disinilah sumber awal ajaran “Dharmic Original”,kemudian pada era setelah nya tercatat para tokoh pelopor nya :

Çhri Janaýasã abad 6 Masehi
Mereka Putra Nusantara pelopor “Dharmic Original” yang Landmark di “Muotakui” kini terpublikasi “Muara Takus” adalah pusat peradaban maju sebelum 78 Masehi yang membangun situs situs di Nusantara juga Nalanda di bihar india di kemudian hari bernama Srivijaya dengan tokoh nya Syailendra.

“Hinduisme”,adalah peleburan atau sintesis dari berbagai tradisi dan kebudayaan di India,sintesis muncul sekitar 500–200 SM di india,dengan pangkal yang beragam dan tanpa tokoh pendiri tumbuh berdampingan dengan Buddhism hingga abad ke-8,dari India Utara “Sintesis Hindu” ini tersebar ke selatan.

Akhir abad ke-18 ‘Hindu’ menjadi istilah padanan bagi ‘orang India’ yang bukan Muslim,bukan Sikh,bukan Jaina,bukan Kristen,bukan Buddha,mencakup berbagai penganut dan pelaksana kepercayaan tradisional yang berbeda-beda.

Artinya istilah ‘Hindu’ itu sebagai antonim terhadap keyakinan lain,kemudian kata ‘Hindu’ dengan tambahan akhiran ‘-isme’ ditambahkan sekitar tahun 1830-an untuk merujuk pada kebudayaan dan “Agama”,istilah tersebut diterima oleh orang India sendiri dalam hal membangun jati diri bangsa untuk menentang kolonialisme.

“Hindu” sebagai tempat berhimpunnya aneka tradisi yang koheren dan independen,didukung oleh “Sanskritisasi” abad ke-19 di bawah dominansi kolonialisme Barat serta Indologi,mulai saat ini istilah “Hinduisme” dipakai secara luas.

Singkat nya di India sebelum abad 9 M,lahir satu “Ajaran” formal bernama di akui di India juga untuk membedakan bukan dua agama yang lahir abad 5 SM Buddha,Jaina juga bukan Islam dengan berbasis pada “Veda”.

Pangkal dari “Hinduisme” adalah “Brahmanisme” ajaran Weda Kuno atau berbasis “Vedic” yang di bawa kaum Saka/Cakya/Çaka/Aryān artinya pemahaman ini di bawa oleh pendatang bangsa asli India bernama “Dravida”.

Asal-usul Agama di lndia dimulai masuknya Bangsa Arya/Cakya/Saka yang membawa perubahan yang sangat besar dalam tata kehidupan masyarakat India sejak 3.102 SM sampai 1.300 SM.

Dibawah ini adalah putra Nusantara Indonesia terdahulu,tercatat setelah “Veda” di tuliskan

Dharmadasa 700-620 SM
Dharmapala 670-580 SM
Sañjaya Belaṭṭhaputta 6 SM
Sariputra 568-484 SM
Svarnadvipa Dharmakirti 610 SM – 520 SM ( ada 2 nama pada masa berbeda sekitar 1013 M ).
Kumarila Bhatta I 618-540 SM
Adi Sankara 569-537 SM
Çhri Janaýasã – Dhapunta Hyam 671–702 M
Rshi Mārkaṇḍeya,abad ke 9 M.

Fahami sekali lagi mereka di atas bukan “Hindu atau Buddha” tapi yang di ajarkan mendasari lahirnya Hindu Buddha Jaina di India,setelah Veda di tuliskan dan tokoh sebelum Veda di tuliskan tidak tercatat.

Bahwa Arya bukanlah penghuni pertama India dan peradaban Harappa “Dravida” ada jauh sebelum kedatangan mereka,Ini berarti bahwa bangsa Arya atau budaya Veda bukanlah sumber tunggal awal peradaban di India,bahwa sumbernya berasal dari tempat lain.

Perubahan tersebut terjadi karena Bangsa “Arya” melakukan integrasi kebudayaan dengan Bangsa asli india “Dravida” dan selanjutnya integrasi ini melahirkan 3 agama india,Bangsa Arya setelah nya mulai menulis kitab-kitab suci Weda,Kitab suci ini dituliskan dalam 4 bagian seperti Reg Weda, Sama Weda, Yayur Weda, dan Atharwa Weda.

Kaum pendatang inilah manusia yang berasal dari Nusantara,nenek moyang leluhur kita kaum Saka/Cakya/Çaka/Aryān,Literasi kata ini terekam sempurna di Borobudur, dengan kata “Maheçãkhya”.

Teks kalimat Mahabharata Udyoga Parva :108 dapat di tafsirkan bahkan di simpulkan bahwa “Timur” ini awal mula “Ajaran” sebelum di bukukan menjadi kitab bernama “Veda” ,lokasi yang di tunjuk sebagai “Timur”,disinilah Sang Pencipta alam semesta pertama kali menyanyikan “Veda”.

Artinya literasi kata “Timur”,pada kutipan di atas adalah,Asia Tenggara Nusantara Indonesia,di sinilah ajaran “Dharmic Original” berawal,berasal dan di pelajari jauh sebelum adanya ajaran yang terlahir di India.

Jadi pangkal dari “Hinduisme” adalah “Brahmanisme” ajaran Weda Kuno atau berbasis “Vedic” yang di bawa kaum Saka/Cakya/Çaka/Aryān.Literasi teks kata Çãkyã tertera di relief dasar Borobudur,kini tidak dapat dilihat karena ditutup,bukan karena aleasan teknis mau runtuh dan setelah nya di publikasikan ada relief “Porno” .

Çaka adalah kaum leluhur Nusantara,tertulis pada relief dasar Vhwãnã Çakã Phãlã/Borobudur dengan teks literasi kata Māhéçãkyã ,Bangsa Çãkyã/Şàkyà/Schytia/Saka,Aryān yang Agung,Kaum “Çaka”sudah ada lebih dahulu jauh dari 78 M dari saat menaklukan Raja “Salivahana” india,Angka tahun 78 M ini yang di salah tafsirkan untuk menghitung awal tahun Saka di prasasti.

Berbagai praktik budaya baru seperti ritual pengorbanan yang semuanya membentuk dasar budaya “Hindu/Veda” awal,dasar nya adalah Ajaran leluhur kita “Dharmic” adalah Dharma/Dhamma/Dhamo terekam pada literasi kata Kųsãlädhãrmãbæjănā di figura dasar relief Borobudur.

Jadi benar Hindu Buddha berasal dari India dan tidak benar situs situs di Nusantara Indonesia berdasar Hindu Buddha dari india. “Ajaran” yang tersimpan sempurna pada budaya Bali dan tergambar di situs situs itulah “Ajaran” yang mendasari lahirnya Hindu,Buddha dan Jaina dibawa oleh kaum “Çaka/Saka/Çakyā/Aryā leluhur kita keluar Nusantara Indonesia.

All the sites as well as the original teachings in the Nusantara are not based on one of the 2 Indian religions Hindu/Buddha, but what is still being depicted on the Borobudur site is also recorded in Bali, is what underlies the growth of the 3 religions there .The basic philosophy of “Dharmic Original” is the teachings of the ancestors of the ancient Indonesian Archipelago which colored India Not the reverse.(Santo Saba/Nayaka).

Pos terkait