Batik in Motion 2026, Yesi Apriliah Lega dan Bangga Ikut Sukseskan Pagelaran Sekaligus Cetak Rekor MURI

Penjuru.id | Probolinggo – Pagelaran Batik in Motion 2026 yang digelar di depan Kantor Wali Kota Probolinggo, Minggu (4/8/2026) sore, meninggalkan kesan tersendiri bagi para peserta. Salah satunya Yesi Apriliah (28), peserta nomor 1.839 yang mengikuti kegiatan tersebut sebagai Kader PKK.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-667 Kota Probolinggo. Ribuan peserta turut ambil bagian dengan mengenakan busana batik dan mengikuti gerakan line dance secara bersama-sama.

Bagi Yesi, keikutsertaannya dalam Batik in Motion 2026 bukan sekadar mengikuti sebuah pertunjukan. Ia merasa kegiatan tersebut menjadi pengalaman membanggakan karena dirinya dapat turut ambil bagian dalam sebuah pagelaran besar yang membawa nama Kota Probolinggo sekaligus mengangkat batik sebagai bagian dari budaya bangsa.

Saat ditemui media usai mengikuti pagelaran, Yesi mengatakan bahwa persiapan dirinya bersama para Kader PKK diawali dengan latihan secara mandiri. Materi gerakan terlebih dahulu dipelajari melalui video yang dibagikan kepada para peserta.

“Awalnya kami latihan mandiri melalui YouTube, sebab kami selaku Kader PKK dikirimi link. Jadi dari link tersebut kami pelajari gerakannya masing-masing,” ujar Yesi.

Setelah melakukan latihan secara mandiri, para peserta kemudian mendapat kesempatan untuk berlatih secara bersama-sama. Menurut Yesi, latihan bersama tersebut dilakukan sebanyak tiga kali di depan Kantor Wali Kota Probolinggo untuk menyamakan gerakan sekaligus membangun kekompakan antar peserta.

“Setelah itu kita latihan bersama tiga kali di depan kantor wali kota,” katanya.

Yesi menuturkan, latihan menjadi bagian penting dalam persiapan mengikuti Batik in Motion 2026. Terlebih, line dance yang dilakukan secara massal membutuhkan keserasian gerakan agar penampilan ribuan peserta dapat terlihat kompak dan menarik.

“Persiapannya tentu latihan itu tadi ya. Karena gerakan yang berirama dan kompak dengan menggunakan batik pasti akan memberikan kesan yang harmoni dalam setiap gerakannya,” ungkapnya.

Menurutnya, penggunaan batik dalam pagelaran tersebut memberikan nuansa tersendiri. Perpaduan antara gerakan yang dilakukan secara bersama-sama dengan busana batik dinilai mampu menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia.

Ia mengaku sangat senang setelah seluruh rangkaian pagelaran dapat terlaksana. Rasa bangga juga dirasakannya karena dirinya bersama peserta lainnya dapat menjadi bagian dari momentum yang dinilai memiliki arti penting bagi Kota Probolinggo.

“Perasaannya ya senang juga, bangga tentunya,” kata Yesi.

Lebih jauh, Yesi mengaku bersyukur dapat ikut berandil dalam upaya mencetak rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Menurutnya, menjadi bagian dari peserta line dance dalam jumlah besar merupakan pengalaman yang tidak mudah dilupakan.

“Saya bisa berandil dalam mencetak Rekor MURI kali ini sebagai bagian dari peserta line dance terbanyak di dunia,” tuturnya.

Ia berharap kegiatan yang memadukan seni gerak dengan busana batik tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Yesi berharap pemerintah dapat terus memberikan perhatian terhadap kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian budaya, khususnya batik sebagai salah satu warisan budaya bangsa.

“Harapan saya kepada pemerintah bisa lebih proaktif lagi dalam melestarikan budaya bangsa, yaitu dalam pagelaran batik,” ujarnya.

Menurut Yesi, kegiatan seperti Batik in Motion dapat menjadi salah satu sarana untuk mengenalkan batik kepada masyarakat secara lebih luas. Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat mendorong masyarakat untuk ikut mencintai dan menggunakan produk budaya Indonesia dalam berbagai kesempatan.

Ia menilai keterlibatan masyarakat dalam kegiatan budaya menjadi hal penting agar upaya pelestarian tidak hanya dilakukan oleh pemerintah maupun pihak tertentu. Menurutnya, masyarakat juga mempunyai peran besar dalam menjaga keberadaan budaya lokal dan nasional agar tetap berkembang di tengah perubahan zaman.

Yesi juga menyampaikan harapannya terhadap perkembangan Kota Probolinggo di usia ke-667. Ia berharap kota tersebut terus mengalami kemajuan sekaligus mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

“Semoga Kota Probolinggo semakin maju, sejahtera, aman, dan nyaman. Terus tumbuh menjadi kota yang unggul dengan masyarakat yang harmonis, kreatif, dan penuh semangat dalam membangun daerah,” harapnya.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan merawat Kota Probolinggo. Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Mari bersama menjaga, merawat, dan memajukan Kota Probolinggo tercinta. Probolinggo Maju, Probolinggo Sejahtera, Probolinggo Bersolek,” ucapnya.

Yesi kemudian menutup pernyataannya dengan menyampaikan ucapan selamat atas bertambahnya usia Kota Probolinggo. “Dirgahayu Kota Probolinggo ke-667,” pungkasnya.

Pagelaran Batik in Motion 2026 pun menjadi salah satu momentum yang mempertemukan semangat kebersamaan, kreativitas masyarakat, dan kecintaan terhadap batik. Bagi Yesi dan peserta lainnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perayaan HUT Kota Probolinggo, tetapi juga pengalaman berharga karena dapat bersama-sama mengukir prestasi sekaligus membawa pesan pelestarian budaya.

(Prasojo)

Pos terkait