10 Jam Setelah Maestro Ki Dalang Manteb Sudarsono Wafat Terciptalah Pirografi Siluoette Media Slumpring

PENJURU.ID | TAWANGMANGU – Talenta sebagai seniman yang dimiliki oleh Slumpring Tawangmangu adalah otodidak dan mengalir begitu saja mengikuti alur semesta. Sebuah karya inovasi yang visioner dalam menciptakan karya seni dengan basic seni lukis bakar (Pirografi) tetapi yang pertama kali di dunia menggunakan media Slumpring.

Slumpring adalah salah satu bagian dari pohon bambu yang dianggap sampah dengan tujuan mengambil bahan dasar media lukis dari alam tanpa merusak alam.
Menciptakan sesuatu yang dianggap sampah hingga mempunyai nilai seni tinggi dan mempunyai nilai secara ekonomi.

Slumpring Tawangmangu menciptakan karya visioner seni lukis bakar dengan mengunakan media slumpring dengan daya cipta karsa dan kuasanya salah satunya adalah Karya Lukis Bakar Siloutte Maestro Ki Dalang Manteb Sudarsono yang dibuat hanya dalam tempo 10 jam dikala mendengar kabar duka cita Maestro Seni dan Budaya asli Tawangmangu Ki Dalang Manteb Soedarsono yang belum genap 40 hari.

Setelah itu Maha Karya Cipta Slumpring Tawangmangu Lukisan Siloutte Ki Manteb Sudarsono di koleksi oleh Omah Kerajinan Sabda Daya Nusantara yang beralamat di Jl. Pringgosari No.1 Ngunut Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar.

Owner Omah Kerajinan Sabda Daya Nusantara R. Jala Sathya Girinatha mewakili Slumpring Tawangmangu seniman Lereng Gunung Lawu telah menyerahkan pada Ki Dalang Danang Suseno pada Rabu sore,(28/07/2019) di Kediaman Almarhum Ki Manteb Sudarsono di Karangpandan Karanganyar Jawa Tengah.

“Saya sangat mengapresiasi tali asih yang di berikan seniman Slumpring Tawangmangu Lukisan Siloutte ayah saya Koleksi Omah Sabda Daya Nusantara dan tanpa ada tanda tangan dan nama pelukisnya , ini sungguh luar biasa.” kata Ki Dalang Danang Suseno saat di konfirmasi penjuru.id Biro Tawangmangu.

” Talenta seni yang inovatif dan visioner dengan menciptakan karya seni yang menggunakan media slumpring dan diperlukan ketelitian yang amat detail hingga menghasilkan Siloutte wajah ayah saya dan sangat mirip wajah asli almarhum.” tegas Ki Danang Suseno yang juga di kenal sebagai pembuat arrasemen Tembang Kidung Wahyu Kalaseba.

” Kami sangat mengapresiasi karya tersebut yang awalnya berasal dari Slumpring yang pada umumnya dianggap sampah ketika di sentuh tangan terampil Slumpring Tawangmangu dengan mengunakan rasa sehingga menghasilkan maha karya yang mempunyai nilai seni yang pastinya menjadi suatu hal yang bernilai ekonomi.” paparnya.

” Semoga di saat PPMK Level IV di Tawangmangu- Karanganyar para pekerja seni dan pengrajin khusunya di Tawangmangu Karanganyar, umumnya di Jawa Tengah dapat bangkit dan terus berkarya dengan berkolaborasi bersinergi dengan Omah Kerajinan Sabda Daya Nusantara hingga dapat membangun ekonomi kreatif yang independen hingga dapat di pasarkan ke kancah nasional hingga mancanegara.” pungkasnya. (Sukarno)

Pos terkait