MAKNA DAN FILOSOFI SLUMPRING

PENJURU.ID – TAWANGMANGU – Yang kita kenal selama ini sebagai tunas bambu sebenarnya bukanlah bambu melainkan kumpulan slumpring yamg masih muda dan biasanya di olah menjadi sayur.

Bambu tercipta dari antara sela sela slumpring yang memanjang dan mengeras.
Fungsi slumpring adalah melindungi inti bambu dari panas dan hujan bahkan slumpring melindungi inti bambu dari manusia yaitu dengan mengeluarkan buluh buluh yang bisa membuat gatal ketika terkena kulit manusia.

Slumpring melindungi inti bambu sampai bambu menjadi dewasa dan ketika dirasa bambu sudah cukup kuat dan keras slumpring dengan ikhlasnya melepaskan diri dari bambu dengan membawa serta seluruh buluh yang ada ditubuhnya.

Sehingga bambu tidak ada buluh sedikitpun dan manusia tidak takut untuk mendekati bambu tersebut.

Namun ketika semua orang berbicara tentang betapa kuatnya bambu dan betapa banyak manfaat yang bisa di ambil dari bambu, sementara itu slumpring hanyalah dipandang sebagai sampah yang hanya di injak injak. bahkan slumpring di anggap mengotori rumpun rumpun bambu.
Manusia telah melupakan semua jasa dan pengorbanan slumpring kepada bambu.

Makna filosofi Slumpring

Kebudayaan nenek moyang nusantara adalah kebudayaan yang di akui oleh dunia sebagai kebudayaan tertinggi di dunia dari jaman para leluhur nusantara, semua itu bukanlah sebuah kebetulan tapi perjuangan nenek moyang nusantara dalam mengamati dan mempelajari serta mempertahankan budaya serta norma kemanusiaan.

“Semua itu butuh proses yang panjang disertai dengan perjuangan yang mempertaruhkan waktu, tenaga, harta benda para leluhur pendahulu kita.” kata seniman lereng lawu Slumpring Tawangmangu saat di konfirmasi penjuru.id , Sabtu (14/08/2021) di Desa Ngeledok Sari Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar.

“Apa yang leluhur kita harapkan tiada lain adalah agar anak cucu generasi penerus mereka kelak bisa menjadi panutan dalam hal budaya dan norma kemanusian dari seluruh penjuru dunia,namun apa yg terjadi sekarang.” tegasnya.

Kebudayaan tertinggi yang di akui oleh dunia hanyalah dianggap kuno dan kolot serta ironisnya adalah justru orang nusantara sendiri yang menganggap demikian.

Mereka berusaha memasukan budaya asing serta norma dari luar yang sebenarnya derajatnya lebih rendah bahkan lebih buruk dari budayanya sendiri, mereka lebih suka ke arab araban atau kebarat baratan daripada kejawa jawaan.

Malu memakai blangkon tapi tidak malu ketika memakai topi atau sorban,mereka malu memakai pakaian adat, tap mereka tidak malu ketika memakai gamis ataupun singlet.

Miris dan ironis sekali jaman sekarang ini,
marilah kita jaga dan lestarikan budaya nenek moyang para leluhur kita dan bangga dengan budaya kita sendiri.

“Slumpring akan menjadi emas ketika kita menggunakan dan memanfaatkannya dengan benar. Maka ketika kita melestarikan budaya kita akan menjadi bangsa yang besar menjadi mercusuar dunia tanpa harus menunjukan dan menjajah bangsa lain.”pungkasnya.(Aris/Adi Penjuru).

Pos terkait