PENJURU.ID | Probolinggo – Koramil 0820/09 Lumbang turun langsung untuk mengawal dan mengamankan pelaksanaan
kegiatan adat tradisi peringatan 1 suro ( grebeg suro) di pendopo agung air terjun Madakaripura Dusun Krajan, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabuparen Probolinggo, Jumat (19/6).
Koramil 0820/09 Lumbang Serma Maryanto menyampikan bahwa kegiatan bersama warga masyarakat tersebut merupakan salah satu bentuk menjalin kebersamaan, kerukunan dan silaturahmi.
Tradisi grebeg suro 1 suro adalah tradisi sakral masyarakat yang merupakan budaya masyarakat dalam menjaga kearifan lokal. “Inti dari perayaan ini adalah introspeksi diri melalui tirakat , semedi dan keseimbangan alam yang sering diwarnai dengan doa bersama dan kegiatan sosial,” kata Serma Maryanto.
Serma Maryanto menambahkan, Grebeg Suro berasal dari tradisi kerajaan Majapahit yang sangat menghargai keberagaman budaya dan agama. Pada masa itu Raja Majapahi, khususnya Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada memiliki pemahaman bahwa Islam dan budaya Jawa dapat bersinergi dalam kehidupan masyarakat.
Grebeg Suro sendiri muncul sebagai bentuk penghormatan terhadap tahun baru Islam sekaligus sebagai media penyatuan antara budaya Islam dan budaya Jawa. Tradisi ini dimulai pada masa pemerintahan Majapahit yang merupakan salah satu kerajaan besar di Indonesia.
“Selain sebagai acara keagamaan Grebeg Suro juga menjadi simbol kebesaran kerajaan dan kekuatan spiritual Majapahit acara ini biasanya dilaksanakan dengan meriah dan melibatkan seluruh masyarakat,”ujarnya.
Lebih lanjut anggota berpostur tinggi tegap ini mengungkapkan, Grebeg Suro tidak hanya memiliki makna keagamaan tetapi juga nilai-nilai sosial dan budaya yang sangat penting.
Tradisi ini mengajarkan masyarakat untuk selalu bersyukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Tuhan serta mengingat pentingnya kebersamaan dalam menjaga keharmonisan antarwarga.
Grebeg Suro juga menjadi ajang untuk melestarikan budaya Jawa seperti tarian, musik gamelan dan wayang kulit.”Melalui perayaan ini generasi muda dapat mengenal dan mempelajari kekayaan budaya mereka, serta menjaga agar tradisi ini tetap hidup dan berkembang,”pungkasnya. (Pras)





