PENJURU.ID | Opini – Sampai sekarang, pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Belakangan ini Facebook menghapus postingan Donald Trump yang berisikan video tentang memuat klaim bahwa anak-anak kebal terhadap Covid-19. Unggahan tersebut menimbulkan banyak kontra. “Video ini termasuk klaim yang menyesatkan bahwa kelompok tersebut [anak-anak] kebal dari Covid-19, yang mana telah menyalahi kebijakan kami karena misinformasi yang membahayakan,” ujar juru bicara Facebook, yang dilansir dari laman tirto.id
Padahal yang kita ketahui bahwa virus Covid-19 bisa menghampiri siapa saja terutama yang paling rentan adalah bayi, balita, dan juga lansia. Keputusan Facebook dalam menurunkan postingan Trump merupakan hal yang pertama kali dilakukan. Pihak Facebook mengatakan bahwa selama ini Facebook memang banyak tekanan, karena membiarkan sejumlah pemimpin dunia mengunggah postingan berisi klaim yang menyesatkan mengenai Covid-19.
Selain di Facebook, video Trump juga tersebar di Twitter. Video tersebut diposting oleh kampanye Trump (@TeamTrump) yang kemudian akhirnya disembunyikan oleh Twitter Inc., dengan alasan memuat misinformasi tekait virus corona.
Trump mengklaim hal tersebut tidak berdasarkan dengan alasan serta fakta yang jelas sehingga ditakutkan masyarakat akan mendapat informasi yang rancu dan berbelit-belit. Trump mengatakan “Jika kamu melihat angka, untuk kematian anak di bawah umur, sistem kekebalan mereka begitu kuat. Mereka terlihat mampu mengatasinya begitu baik dan itu semua menurut beberapa statistik,“.
Namun, pada bulan April 2020 lalu, Ned Lamont seorang Gubernur Negara Bagian Connecticut, Amerika Serikat, mengatakan seorang bayi berusia enam minggu dilaporkan meninggal karena komplikasi terkait virus Covid-19. Sejumlah media bahkan menyebutnya sebagai pasien meninggal termuda di dunia.
“Dari hasil pengujian telah dikonfirmasi bahwa bayi tersebut positif Covid-19,” ujar Gubernur Ned Lamont dikutip dari healthdetik.com
Hal tersebut sangat bertolak-belakang dengan pernyataan Trump dalam videonya yang mengklaim bahwa bayi tidak rentan terhadap virus Covid-19, namun bayi termuda yang meninggal akibat terinfeksi virus dengan umur enam minggu terjadi di negara Amerika Serikat sendiri.
Karena pandemi Covid-19 yang cukup lama, Trump berencana untuk membuka kembali kegiatan bisnis dan sekolah dengan alasan untuk memulihkan kembali ekonomi negaranya yang menjadi faktor penting dalam pemilihan Presiden mendatang. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa klaim yang dikatakan oleh Trump dalam videonya tersebut tak lain untuk kepentingan politik semata.
Hal tersebut bisa dikatakan kepentingan politik karena keuangan di Amerika Serikat semakin menurun. Trump khawatir jika masalah pandemi ini tidak juga teratasi, akan banyak masyarakat Amerika Serikat yang terus menganggur sehingga perekonomian di negara tersebut semakin tercekik dan agenda pemilihan Presiden terganggu. Trump berinisiatif mengklaim pernyataannya dalam video agar masyarakat tidak perlu khawatir terhadap anak mereka yang ditinggalkan di rumah untuk bekerja, sehingga perekonomian negeri Paman Sam tersebut kembali berjalan normal.





