PENJURU.ID|DENPASAR–Konon mitologi yang dipakai dasar untuk menyatakan kemenangan Dharma melawan Adharma adalah mitologi kekalahan Mayadenawa.Kalau disimak bahwa cerita itu digolongkan mitologi, atau cerita mitos, tentu bukan itu sejatinya yg menjadi dasar hari suci ini.
Tapi bisa kita pakai sebagai titik dasar pemahaman, bagaimana mana wujud kemenangan tersebut. Karena dalam cerita tersebut, intinya adalah mengembalikan umat yang menjalankan Dharma Nusantara atau ajaran Siwa Budha ini untuk kembali ke pakem ajaran Dharma Nusantara ini.
Karena dalam mitologi tersebut diceritakan bahwa pasukan Betara Indra yang menang, sehingga masyarakat kembali menjalankan agama, adat, tradisi dan budaya yg ada di Bali saat itu, itulah diartikan sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma.
Saat ini, disaat rongrongan dari ajaran Hare Krsna, Sai Baba dan Sampradaya Asing terhadap Agama Hindu Bali yang dasarnya adalah Dharma Nusantara yg disebut ajaran Siwa Budha, maka tentu kita bisa mengambil hikmah hari suci Galungan dan Kuningan ini. Kapan dan bagaimana wujud kemenangan Dharma dalam kehidupan kita sebagai umat yang ngajegang Agama Hindu Bali?
Umat Hindu Bali yang kukuh ngajegang dan melestarikan Agama Hindu Bali dengan ajaran Siwa Budha, dan tidak terpengaruh ajaran Sampradaya Asing, seperti Hare Krsna, Sai Baba dan lain lain, saat itulah kemenangan Dharma itu mereka sandang.
Sedangkan mereka yang mengaku beragama Hindu Bali/Nusantara, tapi dengan sengaja menyebarkan ajaran Hare Krsna, Sai Baba dan ajaran Sampradaya asing lainnya kepada umat beragama di Indonesia, saat seperti itu Adharma menghiasi kehidupan mereka.
Dengan dasar Pancasila dan kehidupan yang ber “Bineka Tunggal Ika” itulah kehidupan dengan landasan Dharma. Dan lawan dari kehidupan ini adalah Adharma, dimana ingin mengkonversi umat beragama dengan ajaran Hare Krsna, Saibaba dan Sampradaya asing lainnya di bumi Nusantara ini.
Jadi umat Hindu Bali yang tetap ngajegang dan melestarikan ajaran leluhur Bali/Nusantara dalam kehidupannya, inilah yg pantas merayakan Hari Suci Galungan dan Kuningan. Karena dengan nyata mereka tetap memenangkan Dharma dalam hidupnya.
Sedangkan umat Hindu Bali yang dengan sengaja mau merusak ajaran Hindu Bali, dan menggantinya dengan ajaran Sampradaya asing tersebut, inilah umat yg kegelapan, umat yang menjalankan Adharma dalam kehidupannya. Dan umat seperti ini tidak pantas merayakan hari suci Galungan dan Kuningan.
Buda Kliwon Dungulan.
10 November 2021
Renungan dari kaki Gunung Agung
IDGN Surya Anom
Wakil Ketua II Pengurus Harian PHDI Pusat





