PENJURU.ID | Probolinggo – Rutan Kraksaan Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur menggelar pembinaan keagamaan bersama Majelis Ulama Indonesia Probolinggo.
Kegiatan pembinaan tersebut secara khusus membahas mengenai puasa dalam perspektif Islam sebagai bagian dari penguatan keimanan dan pembentukan karakter warga binaan. Pembinaan tidak hanya membahas aspek fikih puasa, tetapi juga menekankan dimensi spiritual dan sosialnya.
Bagaimana puasa melatih pengendalian diri, menumbuhkan empati, serta membangun kesadaran moral. Rabu (25/02).
Karutan Kraksaan, Galih Setiyo Nugroho, menegaskan bahwa pembinaan spiritual merupakan elemen penting dalam proses pemasyarakatan.
“Puasa mengajarkan kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri. Nilai-nilai inilah yang sangat relevan dalam proses pembinaan warga binaan. Kami berharap kegiatan tersebut mampu menumbuhkan kesadaran untuk berubah dan memperbaiki diri secara sungguh-sungguh,” tutur Galih.
Perwakilan MUI Probolinggo, KH. Masrur Rabitullah As’ad, dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa puasa bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan sarana pendidikan jiwa.
“Puasa adalah madrasah kehidupan. Ia melatih kita menahan hawa nafsu, memperkuat empati, dan mendekatkan diri kepada Allah. Bagi warga binaan, ini adalah kesempatan emas untuk menjadikan masa pembinaan sebagai proses hijrah menuju pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.
Rutan Kraksaan berharap pembinaan keagamaan yang berkelanjutan dapat menjadi jalan perubahan, sehingga warga binaan tidak hanya selesai menjalani masa pidana, tetapi juga siap kembali ke masyarakat dengan keimanan yang lebih kuat dan karakter yang lebih baik.
(Pras)





