PENJURU.ID I Jakarta – Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap minyak atsiri, Indonesia yang dikenal sebagai salah satu produsen terbesar dunia justru menghadapi tantangan serius dalam aspek teknologi pengolahan. Sebagian besar petani masih mengandalkan metode ekstraksi tradisional berbasis pemanasan langsung dan peralatan sederhana yang boros energi, kurang stabil, serta berpotensi menurunkan kualitas minyak. Minimnya penerapan teknologi tepat guna menyebabkan efisiensi produksi rendah, biaya operasional tinggi, dan nilai tambah tidak maksimal. Kondisi ini turut menghambat daya saing komoditas minyak atsiri Indonesia, seperti nilam, sereh wangi, kayu putih, dan cengki, untuk masuk ke pasar premium global.
Menjawab persoalan tersebut, sebuah tim peneliti lintas kampus dari Universitas Mercu Buana (UMB) dan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) meluncurkan sebuah inovasi teknologi ekstraksi yang diklaim mampu menjadi lompatan besar dalam modernisasi industri atsiri nasional. Dipimpin oleh Prof. Dr. Darwin Sebayang, berkolaborasi dengan Dr. I Gusti Ayu Arwati dari Universitas Mercu Buana, serta peneliti muda Hendi Saryanto dari FTII Uhamka. Tim ini berhasil mengembangkan prototipe “Alat Ekstraksi Minyak Atsiri Berbasis Pemanas Induksi, Perlakuan Ultrasonik, dan Mekanisme Screw Conveyor–Screw Press.”
Inovasi tersebut mengintegrasikan berbagai teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan mutu hasil ekstraksi. Salah satu komponen utama adalah “Pretreatment Ultrasonic Screw Conveyor”, sebuah modul yang menggabungkan getaran ultrasonik ke dalam screw conveyor untuk melemahkan dinding sel biomassa secara kontinu. Dengan metode ini, proses ruptur sel berlangsung lebih cepat dan efektif, sehingga mempercepat difusi minyak serta mengurangi waktu ekstraksi.
Tak hanya itu, sistem screw press yang ditambahkan memungkinkan pemisahan awal minyak secara mekanis sebelum proses distilasi berlangsung. Pendekatan ini tidak hanya menurunkan konsumsi energi, tetapi juga mampu meningkatkan rendemen minyak secara signifikan. Pada aspek pemanasan, penggunaan teknologi pemanas induksi menggantikan tungku kayu atau gas yang selama ini digunakan petani. Pemanas induksi memberikan distribusi panas lebih merata dan terkontrol, menghindari kerusakan komponen aromatik minyak, sekaligus mendukung penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Berdasarkan uji awal, alat ini menunjukkan peningkatan efisiensi energi lebih dari 30%, pengurangan waktu ekstraksi hingga 40%, serta peningkatan rendemen minyak antara 10–20%, bergantung pada jenis tanaman atsiri yang diproses. Bagi petani dan pelaku usaha kecil, pencapaian tersebut berpotensi memberikan peningkatan pendapatan yang signifikan. Untuk komoditas premium seperti nilam, kualitas minyak yang dihasilkan juga lebih stabil dan minim degradasi, sehingga lebih kompetitif untuk pasar ekspor kelas atas.
Menurut Hendi Saryanto, inovasi ini bukan hanya soal peningkatan teknologi, tetapi juga strategi pemberdayaan masyarakat.
“Teknologi ultrasonik–induksi ini kami rancang agar benar-benar bisa digunakan petani dan UMKM, bukan hanya berhenti sebagai prototipe laboratorium. Prinsip kami adalah teknologi yang sederhana dioperasikan, efisien, dan memberikan dampak ekonomi langsung. Jika alat ini diterapkan di sentra atsiri, petani bisa meningkatkan kualitas sekaligus mendapatkan harga jual lebih tinggi,” ujar Hendi.
Ia menambahkan, bahwa selama puluhan tahun industri atsiri Indonesia terjebak dalam pola produksi tradisional yang tidak berkembang, sehingga sulit bersaing dengan negara lain yang sudah menerapkan teknologi modern.
“Indonesia punya bahan baku terbaik, tetapi tidak punya teknologi yang cukup maju untuk menjaga nilai tambah. Dengan integrasi ultrasonik, induksi, dan screw press ini, kami ingin mengubah struktur produksi atsiri menjadi lebih modern tanpa menghilangkan karakter lokal,” jelasnya.
Hendi juga menegaskan, bahwa desain alat telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan: konsumsi energi yang lebih hemat, reduksi emisi dari pembakaran kayu, serta proses ekstraksi yang lebih higienis dan konsisten.
Inovasi yang dikembangkan ini telah menarik perhatian berbagai pihak karena dianggap mewakili arah baru riset perguruan tinggi Indonesia yang lebih aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat. Kolaborasi antara Universitas Mercu Buana dan Uhamka ini memperlihatkan bahwa penelitian akademik dapat menjadi pemicu perubahan nyata, khususnya bagi industri minyak atsiri yang selama ini stagnan dalam penggunaan teknologi modern.
Saat ini, tim peneliti tengah mempersiapkan tahap komersialisasi serta uji lapangan di sejumlah sentra produksi atsiri di Sumatera, Jawa Barat, dan Sulawesi. Dengan pendekatan multidisiplin yang memadukan teknik mesin, kimia, pertanian, dan energi terbarukan.
Inovasi ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam membangun industri atsiri Indonesia yang lebih efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi. Jika berhasil diterapkan secara luas, Indonesia berpotensi berkembang dari sekadar pemasok bahan baku menjadi produsen minyak atsiri berkualitas premium berbasis teknologi inovasi karya anak bangsa.





