Perkuat Tradisi Berderma, BAZNAS Tangsel Gandeng Tokoh Masyarakat Bedah Al-Qur’an dan Hadis

Penjuru.id, TANGERANG SELATAN – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Tangerang Selatan menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada Rabu, 30 September 2026. Diskusi kelompok terfokus yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB ini bertempat kantor Baznas Tangsel di Lantai 2, Jalan Maruga Raya RT 05/RW 04 , Kel.Serua, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

Agenda ini diinisiasi oleh Wakil Ketua 1 Bidang Pengumpulan BAZNAS Kota Tangerang Selatan periode 2022–2027, KH. Taufik Setyaudin, M.A. Forum tersebut menghadirkan para tokoh agama, perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), pegiat sosial, pengelola zakat, hingga relawan kemanusiaan yang aktif bergerak dalam menggerakkan kesadaran zakat, infak, dan sedekah di masyarakat.

Dalam pengantarnya, KH. Taufik Setyaudin menjelaskan pentingnya membuktikan secara akademis bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis diimplementasikan dalam keseharian masyarakat Muslim, khususnya dalam aktivitas berderma.

“Masyarakat kita memiliki cara yang berbeda-beda dalam membumikan Al-Qur’an dan Hadis. Ada yang lewat seni kaligrafi, penggunaan peci, hingga aktif di Rumah Tahfidz Qur’an (RTQ). Namun, untuk konteks berderma, kita butuh data ilmiah dan penelitian akademik yang kuat untuk melihat sejauh mana pemahaman teks suci tersebut mendasari perilaku sosial mereka,” ujar KH. Taufik.

Ia memaparkan ada dua kemungkinan sudut pandang yang melatarbelakangi antusiasme warga dalam berderma. Pertama, masyarakat terdorong karena pemahaman mendalam terhadap dalil agama yang disampaikan melalui dakwah. Kedua, adanya pengaruh dari identitas sosial.

“Bisa jadi motivasinya karena ikatan identitas sosial sebagai sesama Muslim. Melalui forum ilmiah ini, kami ingin menggali data dan pengalaman langsung dari Bapak dan Ibu yang bersentuhan langsung dengan pengelolaan zakat di lapangan,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, perwakilan dari MUI, KH. Hasan Mustofi, memberikan penguatan dari sisi esensi syariat dan edukasi umat. Beliau menekankan pentingnya peran lembaga zakat serta lembaga interaksi keagamaan untuk terus memberikan pemahaman komprehensif mengenai filosofi ibadah maliah (harta).

“Lembaga zakat dan lembaga interaksi keagamaan memikul tanggung jawab besar untuk terus mengedukasi umat mengenai filosofi sedekah dan zakat. Keduanya bukan sekadar urusan keduniaan atau bantuan sosial kemanusiaan biasa, melainkan memiliki dimensi keakhiratan yang sangat kental sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Harus kita akui secara jujur dan terbuka, mohon izin maaf, saat ini belum semua umat Muslim memahami secara mendalam ketentuan, esensi, maupun perbedaan mendasar terkait zakat dan sedekah ini. Di sinilah edukasi filosofis itu menjadi krusial,” urai KH. Hasan Mustofi.

Menambahkan pandangan tersebut, Drs. H. Dadang Raharja, M.Si menegaskan bahwa profesionalisme lembaga menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik.

“Kita harus memberikan pelayanan terbaik agar BAZNAS benar-benar menjadi yang utama dan pilihan pertama bagi masyarakat. Rasa empati terhadap lingkungan sekitar dan jiwa kedermawanan para muzaki perlu terus kita sentuh secara humanis. Dengan begitu, mereka merasa yakin bahwa harta mereka disalurkan di tempat yang resmi, transparan, dan tepat sasaran,” kata Drs. H. Dadang Raharja.

Sementara itu, Dr. H. Ahmad Rifa’i, M.A. memberikan pandangan dari sudut pandang metodologi edukasi keagamaan. Ia menekankan pentingnya mentransformasikan data lapangan hasil FGD menjadi gerakan literasi zakat yang masif.

“Temuan dan dinamika sosiologis yang kita diskusikan hari ini sangat berharga. Pendekatan dakwah ke depan tidak bisa lagi hanya sekadar teks, melainkan harus berbasis data riil perilaku masyarakat agar lebih relevan dengan realitas umat saat ini,” ungkap Dr. H. Ahmad Rifa’i.

Dari sisi praktisi lapangan, perwakilan LAZ MRBJ (Masjid Raya Bintaro Jaya), Pak Mukoddas, membagikan realitas mengenai kecenderungan preferensi para donatur saat ini.

“Di lapangan, karakteristik muzaki itu sangat beragam. Ada kelompok muzaki yang lebih senang menyalurkan zakat atau infaknya khusus untuk program pendidikan, dan ada juga yang lebih condong pada program kesehatan. Selain memfasilitasi preferensi ini, penyediaan layanan muzaki prioritas serta program jemput zakat menjadi strategi krusial untuk memberikan kemudahan bagi para pembayar zakat,” urai Pak Mukoddas.

Diskusi semakin berkembang saat perwakilan dari Laju Peduli, Rizqi, memberikan paparan mengenai pentingnya riset pemetaan wilayah potensi muzaki dan digitalisasi gerakan dakwah zakat.

“Kita perlu melakukan riset mendalam untuk memetakan wilayah-wilayah yang memiliki potensi muzaki tinggi, seperti kawasan Jakarta Selatan (Jaksel), Tangerang Selatan (Tangsel), hingga wilayah Jawa Barat. Dari pemetaan ini, gerakan dikembangkan ke skala nasional dengan mengintegrasikan multi-kanal digital, menggandeng influencer atau TikToker hijrah, serta menyasar Gen Z melalui kegiatan yang relevan agar syiar zakat resmi meluas,” jelas Rizqi.

Melengkapi pembahasan tersebut, Hairul Anwar selaku perwakilan dari Sahabat Yatim menekankan pentingnya akuntabilitas penyaluran dana dan fokus pada masa depan anak asuh.

“Kita juga melihat potensi generasi milenial yang aktif di berbagai bidang, termasuk olahraga. Kunci utama menjaga kepercayaan mereka adalah transparansi laporan yang detail. Muzaki sebagai mitra strategis berhak tahu ke mana aliran dana mereka disalurkan secara geografis, seperti proyek bantuan ke Nusa Tenggara Timur (NTT), ke Solok Sumatera Barat, atau wilayah lainnya,” terang Hairul Anwar.

Ia menambahkan bahwa fokus jangka panjang lembaga adalah memastikan anak-anak yatim dan dhuafa yang dititipkan dapat tumbuh menjadi generasi berprestasi baik secara akademik maupun non-akademik.

Sebagai penutup rangkaian sharing, Toyib Efendi yang hadir selaku relawan sosial, memberikan catatan penting mengenai kondisi psikologis masyarakat akar rumput berdasarkan pengalamannya mendampingi warga di lapangan.

“Sebagai relawan yang berinteraksi langsung di lapangan, kami melihat bahwa kepercayaan masyarakat tumbuh dari bukti nyata. Ketika masyarakat melihat program penyaluran zakat menyentuh kebutuhan dasar mereka secara langsung dan inklusif, respons kedermawanan warga akan mengalir secara organik. Kolaborasi antara data riset lembaga dan pengamatan sosiologis para relawan di basis komunitas sangat penting untuk menjembatani misi BAZNAS ini,” pungkas Toyib Efendi.

Selain pandangan dari para relawan, Forum Group Discussion (FGD) ini juga diperkaya oleh sharing dan masukan dari tokoh agama perempuan. Ida Farida, seorang Penyuluh Agama Islam, bersama Ustadzah Robiana selaku Pengurus Yayasan, turut memberikan perspektif penting mengenai pendekatan keagamaan dan sosial di akar rumput.

Melalui sinergi ide tersebut, FGD ini diharapkan dapat menghasilkan data riset kewilayahan yang akurat, akuntabilitas penyaluran yang transparan, serta formulasi strategi dakwah yang kuat dalam mengoptimalkan penghimpunan zakat di Kota Tangerang Selatan.(adella)

Pos terkait