Pandemi, Kedaruratan, dan Sosialisme

PENJURU.ID | TABANAN –
Pandemi dan Relasinya dengan Kerusakan Alam

Secara perspektif kebudayaan abad ke-21 Menurut Piliang (2011) berada setidak-tidaknya di dalam dua tekanan utama yang akan mempengaruhi arahnya.

Pertama, tekanan ekonomi global yang menuntut persaingan teknologi yang semakin tinggi serta persaingan dalam idiom-idiom pengungkapan yang semakin ketat sehingga sebagian besar tuntutan akan sifat retorika atau karnavalisme kebudayaan, seperti diperlihatkan oleh kebudayaan post-modernisme.

Kedua, tekanan moral/ekologis, yaitu terdegradasinya wacana moral dan ekosistem oleh ekonomi kapital.

Wacana yang kedua menjadi aktual apabila dikaitkan dengan situasi kontemporer. Situasi dimana ruang dipenuhi cengkraman akan ketakutan dan ketidak pastian masa depan utamanya dibidang ekonomi, tepatnya kekacauan yang diakibatkan oleh mahkluk mikro yang tidak lebih besar dari upil kita.

Situasi kini tidak lepas dari bergesernya kesadaran kita, moderisasi dan Industrisasi telah menyebabkan lenyapnya satwa-satwa atau terumbu karang sebagai realitas dan bagian dari ekosistem, digantikan oleh “satwa-satwa” baru seperti HP, TV, Laptop, Mobil, Motor, makanan Instan.

Kita tidak hanya kehilangan satwa dalam ruang kesadaran kita di suatu ekosistem, akan tetapi kehilangan rasa bersatu dengan alam, kita seakan tidak perduli terhadap kesunyian satwa-satwa.

Kita tertuju pada realitas yang ringkih yang berwujud, kemewahan, kekayaan, kesuksesan, harta benda. Sebaliknya telah menyebabkan kita kehilangan realitas-realitas masa lalu beserta kearifan-kearifan masa lalu yang ada dibaliknya yang justru lebih berharga bagi pembangunan diri kita sebagai manusia, seperti rasa kedalaman, kebersamaan, spiritualitas, moralitas dan kebijaksanaan dalam mengelola Alam.

Will Sthepen, dkk (2015) menyatakan kesalahan terbesar kita dalam pengelolaan Alam atau ketidak pedulian akan wacana ekologis menampakkan dirinya pada sidang alam, seperti bencana alam, kekeringan atau kekurangan pangan dan sumber air, termasuk pandemi.

Penelitian Harvard menunjukan lingkungan yang kotor, penuh polusi, kumuh dan penuh sesak tidak hanya memungkinan penyebaran kuman dan tidak sehatnya lingkungan tetapi juga virus dan pandemi. Richard Horton (2013) tentang konsep hubungan Planetary Health dengan Planetary Boundaries yang mempertimbangkan dampak kerusakan kala Antroposen berbanding lurus dengan pengaruh tingkat kesehatan global.

Hal tersebut juga pernah ditulis disejumlah laporan riset ilmiah Lancent tentang kesehatan dan Antroposen yang membuktikan bahwa terdapat korelasi antara tingkat kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kerusakan lahan, polusi udara, perturbasi karbon, dan perubahan iklim global (Whitmee dkk, 2015).
Polusi Global membawa dampak negatif terhadap ketahanan tubuh manusia dalam merespons perubahan sebab karbon hitam dan polutan organik persisten telah mencemari lingkungan hidup dan sosial (Landeigan, dkk, 2018).

Permasalahan plastik yang belum tuntas, mobilitas manusia, demografi, peercepatan temuan teknologi dan aktivitas antropogenik global yang menyebabkan kesusakan lingkungan 100 tahun mendatang (Steffen, dkk 2015).

Pandemi dan Kedaruratan

Secara intuitif segala kemewahan yang dinikmati dewasa ini melalui pengerukkan sumber daya alam untuk mempercepat revolusi industri, manusia modern tidak memiliki Andil atau intervensi secara langsung terhadap tindakan masa lalu.

Dengan demikian pengabaian wacana lingkungan adalah permasalahan krusial dan berlangsung sangat lama. Menjadi genting bahwa kesadaran akan lingkungan hidup yang sehat akan membawa dampak bagi kehidupan, terlebih dalam keadaan pandemik dengan adanya pandangan sosiologis bahwa virus Covid-19 sangat mematikan dan menyebar dalam lingkungan yang kotor dapat mengubah cara hidup masyarakat seturut cara paradigma masyarakat tentang keberadaannya di alam raya.

Pada titik ini tidak hanya pandangan dan cara konsekuensional manusia terhadap alam yang berciri antroposentris tetapi adanya pandangan dan pendekatan yang lebih simetris antara keberadaan serta posisi alam raya dan manusia.

Ketimpangan posisional dimana manusia menginginkan posisi lebih dominan dengan segala kepentingannya dibenturkan oleh batasannya sebagai bagian dari alam, menimbulkan suatu kondisi yang darurat. Bahkan dalam peradaban manusia yang tercermin dari hasil karyanya memiliki obsesi terhadap kehancuran Alam (Apokaliptik).

Film 2012 dan sejenisnya, kepercayaan yang bersumber dari religi pada masa kehancuran dunia dengan berbagai ciri-ciri pra-kondisinya, termasuk juga imaji kita tentang kehidupan di planet lain.

Imaji akhir dunia dalam kebudayaan kita memberikan pandangan bahwa manusia nyatanya mahkluk ringkih yang selalu dapat dihempaskan oleh bencana, pandemi bahkan kuasa Ilahi.

Kondisi pandemi ini dapat menggambarkan sebagai salah satu keadaan darurat yang dialami manusia dalam hidupnya. Lalu lintas yang tinggi yang telah dinikmati hampir 5 dekade kebelakang kini serba terbatas, ekonomi yang semakin sulit karena penutupan dalam menghadapi pandemi menyulitkan kehidupan pasar yang sebelumnya sangat konsumtif, adanya iklim ketakutan yang dikonsumsi hampir setiap jam di media, utamanya tentu saja darurat kesehatan yang terpampang nyata dalam bentuk berbagai kondisi kesehatan yang menurun ditambah dengan situasi yang menunjang rasa frustasi.

Kondisi-kondisi ini membawa dampak medik-sosio-ekonomi yang parah, bahkan berdarah-darah tidak hanya banyaknya jatuh korban jiwa akibat virus, tetapi juga bencana
tsunami pengangguran dan kelaparan.

Ideologi modernitas yang menitikberatkan pada industrialisasi dan teknokrasi serta sirkulasi kehidupan (sekolah-bekerja-naik jabatan-pensiun) terguncang hebat bahkan dipertanyakan kembali.

Pandemi ini telah merubah tata permainan di dunia modern, yaitu dimulainya proses deindustrialisasi menuju digitalisasi, tidak hanya di dunia kerja bahkan juga pada sistem bernegara.

Pandemi dan Sosialisme

Datakrasi kini memungkinkan Negara mengakses segala kebutuhan warga negara bahkan mungkin kecenderungan warganya sebagai modal elektoral melalui teknologi Artifisial Intelegensi. Asumsi pemberlakuan Hak dalam demokrasi (Self Goverment) yaitu “saya lebih tahu tentang disi saya sendiri maka saya berhak merepresntasikan diri saya kepada orang lain”, klaim ini dapat saja digantikan oleh Algoritma atau aplikasi tertentu.

Sehingga Negara dengan mudah dapat mencomot data-data warganya dengan bantuan data melalui bantuan algoritma tersebut sebagai data warganya yang valid.

Selain itu pada masa pandemi dimana situasi serba terbatas dan terjanggal peraturan, datakrasi ini dimanfaatkan dengan mendata masyarakat yang terdampak sehingga dengan mudah dapat menerima bantuan pemerintah.

Lebih dari itu negara sebaiknya menjadi penyelamat bagi warganya dalam hal pendapatan. Warga negara berhak mendapatkan pendapatan dari Negara dengan tidak menjadi karyawan atau bekerja, karena aktivitasnya serba terbatas inilah yang dimaksud dengan sosialisme negara seturut terjadinya nasionalisasi di sektor-sektor yang terkait dengan pencegahan pandemi.

Hal ini menandaskan sektor-sektor krusial harus menjadi tanggung jawab penuh negara sebagai ganti pembatasan yang diterima, sektor-sektor ini berkaitan dengan hajat hidup.

(Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya)

Pos terkait