Harga Minyak Dunia Bertahan Dekat US$100: Ancaman Inflasi Energi dan Tekanan Berat APBN

PENJURU.ID | JAKARTA – Stagnasi harga minyak mentah dunia di kisaran tinggi dekat level 100 dolar AS per barel memicu kekhawatiran meluas terhadap potensi lonjakan inflasi energi global serta pembengkakan beban anggaran negara. Bertahannya minyak jenis Brent pada angka 98,15 dolar AS per barel dan West Texas Intermediate di level 93,04 dolar AS per barel mencerminkan tingginya kecemasan pasar terhadap dinamika pasokan serta ketegangan geopolitik internasional yang tak kunjung mereda. Situasi ini menempatkan perekonomian dunia—termasuk negara-negara berkembang penerima minyak bersih—dalam bayang-bayang krisis biaya hidup dan risiko lonjakan harga barang pokok.

Bagi Indonesia, tingginya harga komoditas energi global ini menjadi ancaman riil bagi ketahanan fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Posisi harga minyak dunia yang jauh melampaui asumsi makro APBN berpotensi menguras dana cadangan negara demi menanggung lonjakan biaya subsidi dan kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) serta listrik. Jika harga minyak bertahan di level tinggi ini dalam waktu lama, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menanggung defisit anggaran yang kian membengkak atau menyesuaikan harga BBM bersubsidi domestik yang berisiko memicu gelombang inflasi lanjutan dan menggerus daya beli masyarakat.

Bacaan Lainnya

Ketidakpastian arah negosiasi geopolitik serta pengetatan stok minyak mentah global diprediksi akan terus menahan harga energi pada level mengkhawatirkan hingga akhir kuartal. Ketergantungan pada impor minyak menuntut pemerintah untuk segera memperkuat langkah antisipasi fiskal, melakukan percepatan diversifikasi energi terbarukan, serta menata ulang efisiensi penyaluran BBM agar tepat sasaran. Tanpa strategi mitigasi yang presisi, tekanan bertubi-tubi dari pasar energi global ini berisiko memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional dan memperberat beban keuangan negara.

Pos terkait