PENJURU.ID | JENEPONTO – Pengaspalan Jalan Sungai Kelara, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, yang telah rampung dikerjakan kini menuai sorotan tajam setelah adanya aduan masyarakat kepada Tim Investigasi DPP PBH Merah Putih Nusantara.
Aduan tersebut diterima tim investigasi yang melibatkan A. Azis Rivai dan CLA Kr. Rani, menyusul keresahan warga terkait kondisi bahu jalan yang dinilai terlalu dalam setelah badan jalan mengalami peninggian akibat pengaspalan.
Ironisnya, warga menilai kualitas lapisan aspal pada ruas tersebut cukup bagus dan tebal. Namun, persoalan justru muncul pada bagian sisi jalan yang memiliki perbedaan ketinggian cukup signifikan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor yang sewaktu-waktu harus keluar dari badan jalan.
Berdasarkan aduan masyarakat yang diterima Tim Investigasi DPP PBH Merah Putih Nusantara, sedikitnya terdapat empat titik yang disebut rawan kecelakaan.
Titik pertama berada di Lingkungan Mataere, Kelurahan Tolo Kota, tepat di depan sekolah MTs Rannaya. Titik kedua juga berada di Lingkungan Mataere, Kelurahan Tolo.
Kemudian titik ketiga berada di Lingkungan Cambajawa, Kelurahan Tolo, yang di sekitar lokasi juga terdapat tumpukan material sirtu.
Sementara titik keempat berada di Lingkungan Paranglakbua, Kelurahan Tolo Utara, Kecamatan Kelara.
Menurut keterangan warga kepada tim investigasi, kondisi tersebut disebut telah berkaitan dengan beberapa kejadian kecelakaan lalu lintas.
Bahkan, korban kecelakaan terbaru dikabarkan harus dirujuk ke rumah sakit di Makassar untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

“Aspalnya memang bagus dan tebal, tetapi bahu jalan sangat dalam. Kami khawatir pengendara yang keluar sedikit dari badan jalan bisa kehilangan keseimbangan dan terjatuh,” ungkap warga dalam aduannya.
Tim Investigasi DPP PBH Merah Putih Nusantara menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pihak terkait, khususnya karena menyangkut keselamatan masyarakat sebagai pengguna jalan.
A. Azis Rivai dan CLA Kr. Rani menyatakan bahwa aduan masyarakat tersebut akan menjadi bahan untuk melihat langsung kondisi di lapangan dan memastikan apakah persoalan yang dikeluhkan warga memang terjadi sebagaimana yang disampaikan.
“Ini bukan semata-mata soal aspal bagus atau tidak. Yang paling penting adalah apakah setelah pekerjaan selesai, jalan tersebut aman digunakan masyarakat. Kalau ada titik yang berpotensi membahayakan, tentu harus menjadi perhatian,” demikian poin sorotan tim investigasi, Minggu (04/10/2026)
Proyek pengaspalan Jalan Sungai Kelara tersebut diketahui dilaksanakan oleh PT Harfia Graha Perkasa.
Warga berharap pihak pelaksana bersama instansi teknis terkait tidak menunggu sampai kembali terjadi kecelakaan baru melakukan penanganan.
Masyarakat meminta agar dilakukan pengecekan langsung terhadap empat titik yang disebut rawan, sekaligus dilakukan evaluasi terhadap kondisi bahu jalan dan keberadaan material sirtu di sekitar lokasi.
Sorotan juga diarahkan pada aspek pengawasan. Sebab, keberhasilan pekerjaan jalan tidak hanya diukur dari permukaan aspal yang terlihat mulus, tetapi juga dari keamanan, fungsi dan kenyamanan jalan setelah pekerjaan selesai.

“Jangan sampai aspalnya bagus, tetapi bahu jalannya justru menjadi jebakan bagi pengendara. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas,” tegas warga.
Tim Investigasi DPP PBH Merah Putih Nusantara selanjutnya diharapkan dapat menindaklanjuti aduan tersebut melalui pengecekan lapangan dan meminta penjelasan dari pihak pelaksana maupun instansi teknis yang berwenang.
Jika ditemukan kondisi yang memang berpotensi membahayakan pengguna jalan, masyarakat berharap segera dilakukan langkah perbaikan atau penanganan sebelum jatuh korban berikutnya.
Aspal boleh mulus dan tebal, tetapi keselamatan pengguna jalan tidak boleh diabaikan.
Hingga berita ini diterbitkan, PT Harfia Graha Perkasa dan instansi teknis terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai kondisi bahu jalan serta laporan kecelakaan di empat titik yang menjadi aduan masyarakat tersebut.



