PENJURU. ID | Jeneponto – Di sebuah rumah sederhana di Kampung Garonggong, Desa Tuju, Kecamatan Bangkala Barat, tangis kecil seorang balita menjadi saksi perjuangan panjang sebuah keluarga kecil menghadapi cobaan hidup.
Balita itu adalah Waiz Saputra (3), putra dari Nazaruddin (36) dan Risnawati (31). Di usianya yang masih belia, Waiz harus menahan rasa sakit akibat tumor di mata sebelah kanannya. Hari-harinya tak lagi dipenuhi tawa ceria, melainkan perih yang perlahan menggerus harapan orang tuanya.
Kabar tentang kondisi Waiz akhirnya sampai ke telinga Kapolres Jeneponto, Haryo Basuki. Tanpa menunggu lama, pada Sabtu, 14 Februari 2026, ia bersama Ketua Bhayangkari Cabang Jeneponto, Ny. Ratih Haryo, mendatangi langsung rumah keluarga tersebut.

Kedatangan rombongan dari Polres Jeneponto itu bukan sekadar kunjungan formal. Ada empati yang tulus. Ada kegelisahan seorang pemimpin yang tak ingin melihat anak sekecil itu terus menahan sakit tanpa penanganan.
Saat memasuki rumah sederhana itu, suasana haru tak terelakkan. Nazaruddin dan Risnawati tak kuasa menyembunyikan rasa sedih sekaligus syukur. Di hadapan mereka, bukan hanya seorang pejabat, tetapi sosok yang datang membawa harapan baru bagi buah hati mereka.
Kapolres menuturkan, informasi tentang kondisi Waiz ia terima dari masyarakat. Hatinya tergerak. Ia ingin memastikan sendiri keadaan sang balita dan memastikan tidak ada lagi penundaan untuk penanganan medis.
“Begitu saya dengar kabarnya, saya merasa harus datang. Anak ini butuh pertolongan segera. Kita tidak boleh menunggu lebih lama,” ujarnya dengan nada penuh kepedulian.
Tak berhenti pada kunjungan dan bantuan sembako, Kapolres langsung memerintahkan tim Dokkes untuk membawa Waiz menjalani pemeriksaan dan pengobatan lanjutan di sebuah klinik kesehatan di Kecamatan Binamu.
Yang membuat momen itu semakin menyentuh, ia menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan Waiz akan ia tanggung secara pribadi. Keputusan itu diambil agar keluarga tidak lagi dibayangi kecemasan soal biaya rumah sakit.

“Biayanya saya tanggung. Yang penting anak ini segera mendapatkan perawatan yang layak. Kita ingin dia punya masa depan yang cerah,” tegasnya.
Langkah penuh empati itu mendapat apresiasi dari Camat Bangkala Barat, Andi Ijo Paramisang. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bukti nyata kehadiran Polri bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga pelindung dan pengayom masyarakat dalam arti yang sesungguhnya.
Sementara itu, Nazaruddin hanya mampu menahan air mata. Suaranya bergetar saat menyampaikan terima kasih. Baginya, uluran tangan itu bukan sekadar bantuan, melainkan secercah cahaya di tengah gelapnya kekhawatiran yang selama ini menghimpit keluarga kecilnya.
Di penghujung kunjungan, Kapolres kembali menegaskan komitmennya bahwa polisi harus hadir di setiap kesulitan warga. Bukan hanya saat ada persoalan hukum, tetapi juga ketika kemanusiaan memanggil.
Di rumah sederhana itu, harapan kembali tumbuh. Dan di mata kecil Waiz, yang tengah berjuang melawan sakitnya, kini terselip doa agar ia bisa segera sembuh dan kembali tertawa seperti anak-anak lainnya.



