Pers dan LSM Sinergi Kawal Kepentingan Rakyat, Ismail Lili Sorot Resiko dan Ancaman di Lapangan

PENJURU.ID | JENEPONTO – Pertemuan Ketua DPC LSM GEMPA Indonesia, Ismail Lili, bersama Jurnalis Online Penjuru.id, Ismail, di Lapangan Parang Passamaturukang, Kota Jeneponto, tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi berlanjut dengan diskusi mengenai peran pers dan LSM dalam menjalankan fungsi kontrol sosial.

Dalam diskusi tersebut, keduanya membahas berbagai tantangan yang dihadapi insan pers dan aktivis LSM saat menjalankan tugas di lapangan, terutama ketika mengawal kepentingan masyarakat, mengungkap persoalan publik, serta menyuarakan kritik terhadap dugaan penyimpangan.

Ketua DPC LSM GEMPA Indonesia, Ismail Lili, menegaskan bahwa pers dan LSM memiliki peran penting dalam mengawal jalannya pemerintahan serta mendorong transparansi dan akuntabilitas. Namun, pelaksanaan fungsi kontrol tersebut tidak jarang dihadapkan pada tekanan hingga ancaman dari oknum yang bersikap arogan.

“Pers dan LSM memiliki fungsi masing-masing, tetapi mempunyai tujuan yang sama, yakni memperjuangkan kepentingan masyarakat. Risiko di lapangan memang ada, termasuk tekanan dan ancaman dari oknum yang tidak menerima kritik. Namun, fungsi kontrol sosial harus tetap dijalankan secara bertanggung jawab,” tegas Ismail Lili, Selasa (20/10/2026)

Sementara itu, Jurnalis Online Penjuru.id, Ismail, menyampaikan bahwa kerja jurnalistik harus berlandaskan fakta, kode etik jurnalistik, dan prinsip keberimbangan. Menurutnya, kritik yang disampaikan secara profesional seharusnya dijawab dengan klarifikasi dan keterbukaan, bukan tekanan atau intimidasi.

“Menjalankan tugas jurnalistik di lapangan bukan perkara mudah. Ketika mengangkat persoalan publik, terkadang ada pihak yang merasa tidak nyaman. Namun, setiap pemberitaan harus tetap berdasarkan fakta, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Ismail.

Ia juga menegaskan bahwa perbedaan pandangan antara pers, LSM, dan pihak yang menjadi sorotan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Karena itu, setiap persoalan sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi terbuka dan mekanisme yang sesuai dengan ketentuan hukum.

Pertemuan tersebut turut menekankan pentingnya menjaga independensi pers dan LSM dalam menjalankan tugas masing-masing. Sinergi keduanya diharapkan mampu memperkuat pengawasan sosial sekaligus menjadi jembatan aspirasi masyarakat.

“Kontrol sosial bukan berarti mencari kesalahan, melainkan mendorong perbaikan. Kritik harus disikapi secara dewasa, sedangkan pers dan LSM juga wajib bekerja profesional serta tidak keluar dari koridor hukum,” menjadi pesan penting dalam diskusi tersebut.

Pertemuan di Lapangan Parang Passamaturukang itu menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap kepentingan publik. Kebebasan pers dan ruang gerak masyarakat sipil perlu dihormati, sementara setiap dugaan penyimpangan harus ditangani melalui mekanisme yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pos terkait