Jeritan Nelayan vs ‘Mobil Siluman’: Dugaan Permainan Solar di SPBU Tarowang Menguak

PENJURU.ID | Jeneponto – Krisis solar di Kecamatan Tarowang kian memprihatinkan. Kelangkaan bukan lagi sekadar isu, tetapi telah menjadi jeritan panjang nelayan kecil yang kehilangan kepastian.

Tiga hari tanpa jatah solar membuat aktivitas melaut lumpuh total. Dampaknya langsung terasa, kebutuhan hidup keluarga nelayan ikut terancam.

Di tengah kondisi itu, muncul pemandangan janggal. Sejumlah kendaraan yang disebut warga sebagai “mobil siluman” diduga bebas keluar-masuk SPBU 74.923.07 Tarowang dan melakukan pengisian tanpa hambatan.

Situasi ini dinilai ironis. Saat nelayan antre berjam-jam dan kerap pulang tanpa solar, kendaraan tertentu justru dilayani lancar.

“Ini bukan lagi soal habisnya solar. Ini soal siapa yang diprioritaskan. Dari pagi banyak mobil siluman keluar masuk, termasuk truk kuning,” ujar perwakilan nelayan, Kamis (09/04/2026) sekitar pukul 16.05 Wita.

Dugaan praktik tebang pilih dalam distribusi BBM subsidi pun mencuat. Penyaluran solar disinyalir tidak tepat sasaran dan berpotensi melibatkan oknum.

Sorotan publik kini tertuju pada manajemen SPBU Tarowang. Transparansi pengawasan dan kebijakan distribusi dipertanyakan.

Jika terbukti ada pembiaran atau penyimpangan, persoalan ini berpotensi masuk ranah hukum, bukan sekadar pelanggaran etik.

BBM subsidi sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat kecil, khususnya nelayan. Bukan untuk kendaraan yang tidak jelas peruntukannya.

Aparat penegak hukum didesak segera turun tangan. Audit distribusi dinilai perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada praktik penyalahgunaan.

Nelayan tidak membutuhkan janji. Mereka membutuhkan solar untuk bertahan hidup.

Sementara itu, manajer SPBU Tarowang, Wahab, mengaku belum mengetahui pasti terkait dugaan “mobil siluman” dan berjanji akan melakukan pengecekan langsung.

“Kalau memang ada, besok saya cek. Saya juga tidak tahu pasti, nanti dilihat dan kalau terbukti pasti dipanggil,” ujarnnya

Terkait tidak adanya pengisian untuk nelayan selama beberapa hari, Wahab menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan pasokan serta kebijakan sementara di lapangan.

“Sekitar tiga hari lalu memang tidak ada masuk. Malamnya sempat ada, tapi besoknya pengisian jeriken, baik solar maupun pertalite, tidak diperbolehkan karena ada informasi mau ada kunjungan kegiatan nasional yang diwakili forkopimda provinsi mau lewat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pengisian kembali mulai berjalan dalam dua hari terakhir, meski belum sepenuhnya normal.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan tegas yang mampu meredam kecurigaan publik. Situasi ini justru memperkuat dugaan adanya ketidakterbukaan dalam distribusi BBM subsidi di SPBU Tarowang.

Pos terkait