PENJURU.ID | Aceh Tamiang – Setelah sebelumnya sempat beredar berita miring di Medsos dan Media dengan narasumber Hayatuddin yang meminta kepada Bupati Mursil untuk mencopot Direktur RSUD Aceh Tamiang atas pelayanan yang buruk. Merasa tercoreng, akhirnya pihak RSUD Aceh Tamiang berikan klarifikasi melalui Konferensi Pers yang bertempat di Ruang Rapat RSUD Aceh Tamiang, pada Kamis (05/10/20), sekira pukul 14.30 wib.
Direktur RSUD Aceh Tamiang dr. Tengku Dedy Syah dalam konferensi serta didampingi beberapa Dokter RSUD dan Kabag Humas Setdakab, mengatakan, “diketahui telah mendaftar seorang pasien bernama Muhammad Ayyub Usia 54 Tahun dari Dusun Sri Desa Paya Awe, pasien pun masuk ke Ruang UGD dan diperiksa oleh dokter jaga dengan keluhan demam 5 hari disertai batuk berdahak, sakit kepala dan tidak selera makan pada Senin 19 Oktober 2020”
Penanganan kondisi darurat pun diberikan secara maksimal dan dilakukannya pemeriksaan penunjang Rapid Test dengan hasil Non-Reaktif. Selain itu, juga turut dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya berupa Rontgen thorax.
“saat hasil thorax VA keluar hasilnya Vilemonie Bilateral yaitu photo ciri khas gejala Covid adanya cairan pada paru-paru dan jantung bengkak berdasarkan gejala klinis maka pasien di diagnosa saspek Covid,” Paparnya
Dijelaskannya, “hasil non reaktif tidak bisa dijadikan acuan patokan akan tetapi hasil klinis lah yang mendasar”
Dalam keterangannya direktur RSUD Aceh Tamiang lebih memperjelas bahwa saspek Covid bukan berarti Postif Covid akan tetapi adalah kecurigaan terhadap gejala yang didapatkan secara klinis dari hasil pemeriksaan Thorax tersebut. Dengan demikian pasien pun dipindah ke Ruangan Pinere guna untuk pemeriksaan Swab.
“sebelumnya kami juga sudah konsultasi ke pihak pasien dan keluarga mereka pun koperatif.” Tuturnya
Dan dihari ke tiga dilakukannya pemeriksaan Swab, selama menunggu hasil Swab pasien tetap dirawat di Ruang Pinere.
Pada Sabtu tanggal 24 sekira pukul 09.00 Wib salah satu Direktur di Pemda Aceh Tamiang yang mengaku sebagai adik atau abang pasien menyampaikan kepada Direktur RSUD Aceh Tamiang bahwa hasil Swab atas nama Ayyub Negatif dan meminta untuk dipindahkan ke Ruang Vip I.
“Katanya pasien negatif kok masih diruang pinere tanyanya kepada saya lantas saya pun menjawab pak kalau memang benar negatif mana bukti autentiknya kami saja belum terima kami sudah koordinasi dari mana itu,” Ucapnya
“Itu kan bersifat rahasia sebenarnya kalau ada masyarkat yang bisa mendapati itu diluan berarti luar biasa sekali kalau memang diberi diluar kami dan sebelum kami itu kan bisa memicu kericuhan dan bisa membuat kita menjadi bertengkar gara – gara oknum yang tidak bertanggung jawab.” Ucapnya lagi
Bukan mendapat jawaban yang diharapkan terkait data yang didapat, alhasil berujung menerima jawaban yang terindikasi mengancam baginya
“Dokter Dedy kalau tidak kau pindahkan kuhancurkan Rumah Sakit ini aku tidak perduli kalau aku harus keluar dari Pemda ini itu diucapkan di depan perawat-perawat,” Ungkapnya
Dikarenakan tidak ingin terjadi keributan, Direktur RSUD Aceh Tamiang meng-iyakan untuk memindahkan pasien ke Ruang Vip I, ternyata pada hari itu hari sabtu Dokter DPJP dan Spesialis tidak berjaga, dan ditanggung jawab oleh Dokter Umum jaga.
setelahnya keadaan pasien tampak terus melemah dan memburuk lantas Direktur RSUD Aceh Tamiang menginstruksikan untuk cepat memindahkan pasien ke Ruang ICU dan diruang tersebut ditangani dengan baik oleh Dokter Spesialis dan Dokter DPJP setelah anestesi bahwa pasien membutuhkan dukungan penangan dengan fasilitas lengkap Rumah Sakit Tipe A minimal Tipe B.
“Jam 16 : 22 wib pasien diberikan terapi untuk meningkatkan tensinya dan obat emrgency telah diberikan akan tetapi pada pukul 17 : 20 Wib kesadaran pasien mulai menurun dan pasien pun meninggal.” Ungkapnya lagi
Dianggap lamban dalam berkoordinasi sehingga terjadilah kejadian yang tidak diinginkan terlihat meja menjadi jebol, ditendang kursi sampai hancur, disepaknya tong sampah sampai pecah.
“Terus terang Dokter Umum syok mendengar pukulan yang dilayangkan ke meja oleh Oknum Ketua MPD.” Sebutnya
“kami sangat – sangat menyangkan tokoh masyarakat selaku Stakeholder pembuat kebijakan seharusnya mereka lebih patuh terhadap prokes yang ada dibuat oleh Gubernur dan Bupati,” Ucapnya dengan rasa kecewa
Dalam keterangan, Untuk hasil Swab Alm. Ayyub diterima setelah 2 hari kemudian dan hasilnya negatif.
“Apa yang disampaikan di medsos itu fitnah kami tidak terima dan kalau tidak ada permintaan maaf dari saudara Hayatuddin beserta keluarga kami akan membawa ini ke ranah hukum.” Tegas Dedy mengakhiri
(Apriansyah)





